KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU
Sudah berlalu tiga ratus enam puluh lima hari. Tepat saat pertama kali memberanikan diri untuk mengajak puan mengelilingi Jogja dari sehabis sholat tarawih hingga menjelang pagi. Dari Kamis yang beranjak ke Jum'at, Kemudian dari Jum'at menuju Sabtu, menyisakan Minggu untuk menjalani hari masing-masing, namun tetap menjaga bara wicara melalui gawai supaya tidak menjadi asing. Indah, sungguh indah. Meski sudah musnah. Lantas sekarang harus apakah? Memulai lagi menyalakan api? Atau tetap hanyut di garis-Nya ini? Pertanyaan yang sama dari banyak orang di sekitar saya. Mengapa dan kenapa? Memangnya apa salahnya? Tiada yang salah. Tidak tahu juga. Entah saya yang sudah hilang rasa atau memang sudah tak lagi bersemayam nyali yang membara bak dahulu kala. Tapi soal rasa, jelas dan pasti masih ada, bagaimana bisa saya bilang hilang rasa, nyatanya tercipta juga tulisan-tulisan pelipur rasa yang sedemikian banyaknya. Kalau soal nyali, tentu bisa disangkal semudah memutuskan untuk absen di...