KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU
Sudah berlalu tiga ratus enam puluh lima hari. Tepat saat pertama kali memberanikan diri untuk mengajak puan mengelilingi Jogja dari sehabis sholat tarawih hingga menjelang pagi. Dari Kamis yang beranjak ke Jum'at, Kemudian dari Jum'at menuju Sabtu, menyisakan Minggu untuk menjalani hari masing-masing, namun tetap menjaga bara wicara melalui gawai supaya tidak menjadi asing.
Indah, sungguh indah. Meski sudah musnah.
Lantas sekarang harus apakah?
Memulai lagi menyalakan api?
Atau tetap hanyut di garis-Nya ini?
Pertanyaan yang sama dari banyak orang di sekitar saya. Mengapa dan kenapa? Memangnya apa salahnya? Tiada yang salah. Tidak tahu juga. Entah saya yang sudah hilang rasa atau memang sudah tak lagi bersemayam nyali yang membara bak dahulu kala. Tapi soal rasa, jelas dan pasti masih ada, bagaimana bisa saya bilang hilang rasa, nyatanya tercipta juga tulisan-tulisan pelipur rasa yang sedemikian banyaknya. Kalau soal nyali, tentu bisa disangkal semudah memutuskan untuk absen di kelas pagi. Lantas apa? Saya juga belum tahu. Namun satu yang pasti, dan sejauh ini tetap saya aamiin-i, perihal urusan hati memang bukan lagi menjadi poros senang dan sedih hinggap hingga merusak jam tidur sebelum sahur. Masih ada berisiknya Yudha dan Ulil serta gerombolan tapir lainnya yang musti pintar-pintar disiasati supaya nyaman terpejam mata ini. Sebab simbok rames-an sudah menanti, pun demikian dengan runtutan jadwal presentasi di kelas Madame Merry.
---
Saya tahu puan sudah dewasa, namun sering terlintas di benak saya tentang puan sahur lauk apa? Masihkah suka dengan nasi kuning di Jakal KM.5 sana? Depan Alfamidi dan seberang kios dimana kita berdua (harapannya) sempat merasa hangat dengan obrolan ditengah rintik hujan. Ah! Mungkin terlalu jauh. Masihkah puan mengingatnya? Secuil kisah yang untuk saya selalu bisa membuat cepat mata terpejam guna semakin larut dalam indahnya khayalan. Tidak pun tidak apa-apa, karena memang saya rasa sudah sewajarnya jikalau puan lupa. Namun tanpa meminta ijin kepada Bapak Presiden Nigeria, saya tetap dan pasti akan selalu mengingatnya. Kata per kata serta setiap tawa dan senyum mata sipit mu yang agak tertutup oleh masker di dagu. Sembari membawa lukisan jerapah tentunya, yang pada akhirnya tanggung jawab menjaganya ada di saya. Yang selepas sampai di tempat pelebur lelah langsung saya abadikan di temboknya, sebagai pengingat juga penuntasan amanat.
Walaupun beberapa waktu yang lalu saya putuskan untuk merobeknya. Sialan! Saya tahu saya kejam. Jerapah imut nan lucu menggemaskan yang tak tahu apa-apa jadi (saya menyebutnya) korban atas kegagalan saya dalam menghadapi gejolak di dada. Bukan karena tak cinta, namun lebih ke sungkan dan kasihan saja. Seperti yang sudah kita tahu, kamar kecil itu bukan hanya ada saya dan beberapa tumpukan buku, namun juga Yudha yang selalu tidur disitu, Ulil yang mulai gemar sambang juga, Kurnia yang jarang absen pula, dan acap kali beberapa kawan lainnya datang entah untuk bercerita panjang soal masalah hubungannya atau yang hanya sekedar mampir sebelum beranjak menjemput pasangannya.
Takutnya, ketika ada yang mengabadikan momen-momen tak terduga, jerapah lucu itu masuk ke dalamnya, kan jadi sungkan kepada puan. Juga kasihan, jikalau timbul pertanyaan yang mengharuskan saya kembali bercerita, tentang bagaimana indahnya masa-masa itu, yang akan saya kenang selalu. Kasihan untuk saya karena tentu dan pasti akan kembali meratapi, kasihan pula kepada puan (menurut saya) jikalau dalam rentang bercerita harus kembali tersebut namanya. Siapa saya kok bisa dengan pede-nya! Ya, kan ya?!.
--
Banyak sudah suara-suara, omongan-omongan, informasi-informasi yang saya dapatkan. Yang terkadang menumbuhkan rasa percaya diri, namun juga di satu sisi memupuk rasa sadar diri. Tentang tulisan diatas kertas yang masih disimpan rapi (agaknya), tentang rasa kangen yang sempat menghampiri, ataupun rasa menyesal selepas memutuskan untuk menghubungi --Rabu, sepuluh Mei dua-ribu-dua-puluh-tiga, tepat pukul delapan-belas-tiga-lima-- yang puan sampaikan di "Kantin Sastra" kala UNDIP datang dan menyapa. Namun sayang, pun ketika omongan dari perantara berhasil menumbuhkan rasa percaya diri saya, nyatanya saya juga tak berbuat apa-apa, pun tidak dengan sedikit coba menyapa. Dasar! Namun memang, saya masih tetap kukuh dan teguh meyakini untuk tidak lagi hadir dan mengganggu bahkan hanya dengan melambai sembari menyebut namamu kala bertemu. Telepon hari itu benar-benar jadi hantu.
Dan yang lebih sialan. Setelah banyak yang menumbuhkan rasa percaya diri, sedangkan hanya satu yang saya rasa memupuk rasa sadar diri, di momen itulah saya justru melakukan eksekusi. Memotong habis buah bentuk perjuangan selama hampir dua tahun terakhir. Dengan berat hati memang, namun karena ada pepatah yang berkata bahwa "rambut menyimpan memori", maka dari itu, selepas setengah mati bertahan di lapangan selama dua babak berurutan, ditemani rintik hujan kala sejoli-sejoli mencari makanan sebagai penebus lapar seharian, saya putuskan untuk menerjang air Tuhan menuju medan pertempuran. Pertempuran ideologi, antara isi kepala dengan isi hati.
Dan setelah menemani habis sebatang milik mas Ody --tukang cukur, kenalan baru-- kami masuk ke dalam dan mulai mantap mengeksekusi --meski di awal, seisi ruangan sangat menyayangkan terhadap keputusan. Sudah tuntas dan lunas. Dengan itu, saya sudah bertekad untuk mengiyakan informasi terakhir yang saya dapat. Yang memupuk rasa sadar diri, perihal keinginan sebatas berteman, dan untuk lebih, tidak lagi.
Ah! Sialan! Tapi ya sudah.
--
Sebenarnya, jus alpukat coklat dari Pak Lebah kala saya menghampiri puan seusai kelas memasak sebagai bentuk tahap awal menuju mimpi ke Cordon Blue adalah siasat yang saya sebut lintis, licik-romantis. Satu jus dengan dua sedotan. Sialan, bukan? Hahaha, tapi ya bagaimana? romantis dan uang yang menipis memang kadang sering saling teriris. Yang setelahnya, puan habis di jalan, karena seharian penuh belum merebahkan badan, pulang ujian lanjut berkeliaran, kemudian pulang dan berangkat lagi untuk menuntaskan keputusan. Namun apa? Bak burung di dalam sangkar yang kelaparan, setelah terisi dan agaknya kenyang, puan mengoceh dengan lantang, bicara soal silsilah keluarga, inflasi Uni-Eropa, perihal PT.Freeport yang merugikan bangsa, dan bahasan lainnya. Yang bahkan hingga mbak-mbak mie goceng Godean sudah memberi kode dengan membersihkan meja samping ketika kita sedang hanyut dalam sungai perbincangan.
Indah.
--
Sekarang, bagaimanakah kabar puan?
Tentu puan tetap sahur dan berbuka meski tanpa pantun-pantun sialan dari saya, kan?
Masih sering kah bangun sahur yang kesiangan?
Atau masih sering kah datang dan menyapa rasa mager itu guna ngabuburit menyusuri langit Jogja sore hari yang indah syekali?
Saya tak tahu apa jawabannya, namun satu yang masih sama kala Ramadhan tiba, untuk datang ke kelas dan berkuliah memang hancur porak poranda. Yang tidak bisa dipungkiri, terkadang hal itu yang membuat diri ini semakin lenyap semangat menjalani hari, sudah memaksakan untuk berangkat pagi, guna mengisi absen dan menyimak dosen, dengan harapan mendapat asupan semangat ketika lirik-lirik manja melihat puan yang seringnya duduk di seberang saya.
Tapi tak apa, semoga absen simaster-mu aman-aman sahaja, ya. Kalaupun tidak, balas di sisa kelas yang ada! Sembari saya membalas lirikan bersembunyi yang masih belum dipenuhi.
--
Entah apa dan bagaimana diantara kita?
Masih adakah?
Atau sudah sirna kah?
Sudahlah.
Biar waktu yang semakin resah.
Biarkan hari yang berkeluh-kesah.
Biar kawan-kawan saya yang semakin marah.
--
Puan, adakah waktu?
Saya mau mengajak makan.
Tidak mewah memang.
Tapi saya rasa tidak akan terlalu mengecewakan.
Saya tidak pandai memasak, dan memang hanya ini yang mampu saya tawarkan.
Menunya adalah sabar dan kesetiaan.
Komentar
Posting Komentar