HAMPIR MATI DITERKAM SEPI

Aku tak tahu harus memulainya dari mana, aku lelah dan hampir menyerah. Menyerah kepada kenyataan bahwa ternyata aku sepenuhnya kesepian. Hal-hal yang selama ini kugaungkan ternyata masih belum lawan sepadan bagi kesendirian. Akhirnya, kalimat "idealisme tak harus selalu diberi makan" lebih sering mampir seliweran, sebagai bahan bakar untuk penyesalan. Ditengah kehidupan yang (sangat-sangat) monoton di Solo, di setiap isapan dalam sebatang-dua batang tembakau andalan, dan di hampir semua malam dalam kotak pelebur penat yang tak sepenuhnya dapat menuntaskan amanat. 

Tidak ada lagi banyak "namun" atau "tetapi", aku benar-benar mengakui bahwa sepenuhnya telah diperkosa sepi, hancur dan hilang sudah harga diri, terkunci dalam siklus kehidupan paling dibenci, namun tak bisa berbuat apa-apa sebab cukup takut jika terlalu banyak aksi-aksi akan berimbas pada kehidupan university (nanti). Mungkin juga tidak akan lagi banyak umpatan, sebab ini semua adalah buah dari keputusan yang diambil dalam keadaan sadar, bahkan dengan sombong dan lantang saat mengutarakan tatkala kawan menanyakan "Kenapa tidak di Jogja saja?". Ya mungkin tidak sepeduli itu juga mereka, hanya sebatas "Mau cerita ke siapa kala kisah cinta ini tak juga menemui titik temunya? Atau, kos siapa lagi yang bisa menampung resah, dosa, dan air mata dikala Jogja dan seisinya sedang bising oleh gelak tawa para pasangan kekasih yang sedang meramu cintanya di kedai kopi skena?" Tak masalah juga, sebab sungguh aku masih sangat menikmatinya. Terlepas hal itu pula yang membunuh tidur lebih cepat dan membuat paru-paru semakin terisi asap tak sehat, sebab perbincangan panjang para pecundang kurang afdol jika tidak diiringi asap kekalahan. Sialan, kuakui aku rindu sekali. Indomaret Sagan atau Vokasi, di ujung bundaran atau juga sepanjang Malioboro kala dini hari. 

Tapi mau bagaimana lagi, sudah genap hampir sebulan aku diteror sepi. Tanpa ampun, sungguh sadis dan teramat ngeri. Sialnya lagi, aku masih belum beradaptasi, Loesi masih sebatas alat transportasi menuju museum itu, pulang, ketiduran, telat berbuka, menyiasati angka, membeli pondasi, dan diulangi lagi, sejauh ini. Mungkin juga beberapa waktu lagi. Maaf seribu maaf untukmu Loesi, hanya untuk bekerja tanpa dibelai manja sebagaimana dengan pasangan pada umumnya. Debu jalanan pun mulai menjadi karat, usang makin usang dan makin tampak tak terawat. Jika saja dia bisa bicara, mungkin sudah diputuskannya hubunganku dengan dia yang sudah jalan hampir 7 tahun lamanya. Semoga tidak, marah mu dengan mogok dan rem belakang seret saja aku sudah pusing untuk mengatasinya, dengan kondisi pundi pundi yang tak kunjung tampak pertanda.

Untuk sekarang menyesal sudah sangat tidak ada artinya. Yang bisa dilakukan hanya tetap bangun dengan muak, berangkat dan berdesak, serta kembali beranjak, sebab kebosanan sudah menunggu dan siap mengoyak. Duduk dan diam saat beberapa yang lain asik dengan candaan yang sejujurnya tak perlu juga dibayar tawa, namun sesekali dipaksa mengangkat senyum, respect sedikit lah, ya! Tapi untuk 8 jam setiap harinya, kemudian libur hanya di Senin saja dan untuk 12 minggu ke depan, tentu saja sungguh sangat menyiksa. Akhirnya, jam 12 adalah solusi, meski yang sangat kusadari ini teramat tricky, yakni dengan beranjak dari kursi, melompat pagar dan menyisir pasar seni, kemudian mengambil air suci, dan melaksanakan rukuk empat kali, yang diakhiri dengan merebahkan seluruh tubuh sembari mengatur alarm sekitar 40 menit dari saat itu. Singkatnya, ngelos turu. Hal yang sudah dilakukan beberapa kali, meski aku paham, ini cukup ngeri ketika kembali ke museum dan ternyata di sana kawan-kawan sedang ber-activity. Yahh... tapi sejauh ini aku masih saja cuek, tak terlalu ambil hati tentang apa saja yang diomongkan dan ku lewatkan ketika aku asik bermimpi, toh yang bisa kutebak dan dengan percaya diri kuyakini, pasti masih berkutat membahas seputar koleksi yang ada dan siasat menghafal semua deskripsinya, guna memandu kala pengunjung tiba. Sudah tentu, aku orang pertama yang malas akan hal itu, tubuh lelah dan lesu namun dipaksa tersenyum palsu, berterima kasih atas kunjunganmu, mengajak berkeliling sembari terus bercerita, dari asal-usul, patung Rangga Warsita, hingga paling akhir koleksi arca, yang sebegitu banyaknya -- termasuk yang (sempat?) hilang dicuri mafia dan sudah sampai Belanda bahkan hingga menyebabkan korban jiwa.

(cont.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT