Sungguh, tidak ada lagi yang spesial di perayaan hari kelahiran. Tepat di hari Minggu, memang, tapi tetap saja rasa ingin bersantai dan bermalas-malasan kalah telak dengan tanggung jawab dan kewajiban. Alarm sudah berbunyi untuk keempat kalinya, mulai dari pukul enam lebih empat puluh tujuh hingga kini di tujuh lebih dua puluh satu, pengingat terakhir untuk segera beranjak dari kenyamanan fana sebuah kasur telanjang yang tak sepenuhnya menopang tubuh yang terlampau panjang. Segera, aku harus keluar dan merangkul handuk, guna mengusir kantuk. Tak ada waktu untuk duduk. Pagi ini tak jauh berbeda dari pagi-pagi lainnya selama mungkin hampir sebulan bertaruh di Surakarta, iya, bertaruh mungkin kata yang tepat. Semoga. Subuh ditunaikan jauh dari semestinya, karena bagiku air dan muka bukan pasangan serasi kala sadar singkat menghampiri. Tentu aku sadari, Yang Maha jelas tak suka sebab lebih memilih nikmat duniawi, tidur kembali. Tapi sudahlah, biar saja itu jadi urusanku, kecewa kalian rasa...