22

Sungguh, tidak ada lagi yang spesial di perayaan hari kelahiran.

Tepat di hari Minggu, memang, tapi tetap saja rasa ingin bersantai dan bermalas-malasan kalah telak dengan tanggung jawab dan kewajiban. Alarm sudah berbunyi untuk keempat kalinya, mulai dari pukul enam lebih empat puluh tujuh hingga kini di tujuh lebih dua puluh satu, pengingat terakhir untuk segera beranjak dari kenyamanan fana sebuah kasur telanjang yang tak sepenuhnya menopang tubuh yang terlampau panjang. Segera, aku harus keluar dan merangkul handuk, guna mengusir kantuk. Tak ada waktu untuk duduk. Pagi ini tak jauh berbeda dari pagi-pagi lainnya selama mungkin hampir sebulan bertaruh di Surakarta, iya, bertaruh mungkin kata yang tepat. Semoga.

Subuh ditunaikan jauh dari semestinya, karena bagiku air dan muka bukan pasangan serasi kala sadar singkat menghampiri. Tentu aku sadari, Yang Maha jelas tak suka sebab lebih memilih nikmat duniawi, tidur kembali. Tapi sudahlah, biar saja itu jadi urusanku, kecewa kalian rasanya juga tak akan begitu membantu. Setelah sajadah dilipat, sudah saatnya berangkat. Berangkat menuju tempat paling membosankan sekaligus tempat paling sering dikunjungi selama di sini. Ya, apalagi? Kalian pasti tahu, jadi tak perlu kusebut, hanya merusak tulisanku. Sebelum ke tempat itu, mampir ke angkringan andalan guna membungkus pondasi, selalu, nasi goreng bersanding bihun, yang akan dilancarkan ke lambung dengan kampul (/krampul), kadang disisipi kerupuk dua, atau sosis solo, atau pisang goreng. Harus dipilih satu, sebab pundi yang dipunya tak sebegitu banyaknya. Awalnya, lebih sering makan ditempat, namun si "12" tak kalah sering membuatku terlena, dari dalam rumahnya ia seolah menggoda, "Buru-buru sekali, mau ngejar apa? Orang juga cuma dunia. Hari masih pagi, alangkah bijaknya kembali mencumbuku sekali lagi, tak akan merusak apapun, justru lebih baik sebagai penopang harimu." Sembari mendengar candaan para konglomerat pemilik hotel dan penginapan bertingkat, akhirnya kembali menghisapnya dengan khidmat, yang selalu berakibat datang terlambat. Keparat, harus ku akui skorku kalah telak.

Hingga saat ini, aku masih belum tahu siapa nama pemilik angkringan ini, tapi untuk berbincang sepertinya sudah tidak ada canggung dan basa-basi tak perlu di antara kami. Mungkin sebelum hengkang dari Surakarta, setidaknya aku harus tahu namanya, anggap saja sebuah cita-cita. Supaya tatkala, entah kapan, kembali bersua, (harapannya) dapat terselenggara gala wicara tentang kenangan lama, saat aku bertaruh sendirian di sini dan saat pertama kali dia memberi tahuku siasat untuk melewati Car Free Day di Slamet Riyadi. Sepertinya akan asik sekali. Tapi jika sampai nanti nyatanya aku tak tahu harus kupanggil siapa dia, tentu tak akan kuanggap sebagai kegagalan, sebab sudah teramat banyak gagal-gagal yang menumpuk dalam halaman kehidupan (ku). 

Ini Minggu yang tentu tak terlalu jauh berbeda dari Minggu lainnya, bahkan mungkin semua hari memang terasa sama saja. Terkecuali Senin sialan, satu-satunya hari libur yang bangunku justru sering pagi, padahal sudah pasti tidak ada alarm yang diatur sebagai pengganggu mimpi, tapi entah mengapa mata seperti sangat akrab dengan sadar padahal tubuh sudah tentu enggan untuk diajak berdiri. Mirisnya, bangun pagi di tiap Senin itu tak begitu berdampak pada Subuh-ku, ironis memang. Subuh malah kadang sangat jauh dari harusnya setiap hari pembuka ini tiba, jam sepuluh atau sebelas atau bahkan hampir dipepet dengan empat raka'at selanjutnya. Oh Tuhan, tentu doaku yang paling utama adalah ampuni dosaku, meski dengan sadar betul aku selalu mengulangi itu, selalu. Tapi Engkau kuyakin Sang Maha Pemaaf, jelas tak salah aku berharap. 

Datang dan lesu sudah layaknya Romeo dan Juliet, Bapak dan Ibu, serta Aku dan Rindu. Selalu beriringan dan sulit dipisahkan, barangkali memang sudah kuwajarkan. Sejak kecil atau mungkin semenjak tau tentang "penilaian orang" aku sepertinya memang suka mempermainkannya, semisal saja, kutahu pasti orang-orang yang bangun pagi dan berangkat dengan mengenakan dasi sudah tentu akan sangat murka melihat muka kusut dan tubuh tinggi tak begitu berisi ini dengan jalannya yang memang sangat terlihat tidak bersemangat. Begitupun disini, para pekerja kebudayaan yang tampak begitu santai dalam menjalani kewajiban tak luput menjadi sasaran. Aku dengan sengaja memang membangun pandangan sebagai seorang anak magang tanpa passion dan harapan. Datang sebab memang sudah jadi keharusan, duduk diam atau sering keluar tanpa alasan --dipikiran mereka mungkin tanpa alasan, meski tak sepenuhnya salah tapi yang jelas mlipir dan merokok adalah tujuan. Air muka tampak enggan bekerja, kantuk yang kerap merayu mata, kepala dan meja kayu yang selalu tampak bermesra, tapi selalu cerah dan ceria kala waktu pulang sudah tiba. Lebih tepatnya dan lebih seringnya tiga puluh menit sebelum waktu seharusnya. 15.30, jendela besar khas rumah Belanda, sudah ditutup rapat hingga sisi samping Kantor DISBUD tak lagi terlihat, kipas-kipas dan kabel-kabel dipastikan tak lagi menancap, yang di beberapa waktu terakhir, lupa pastinya, ada tugas tambahan untuk mematikan pendingin ruangan tua yang kurasa masih topcer fungsinya, selesai diperbaiki seusai aku memandu turis luar negeri dari China dan India, oleh karena aku dilumat habis di ruangan arca. 

-

India, atau sebut saja Durga, cerita panjang lebar tentang Dewa-dewa dan juga Mahabharata, tak lupa juga memberikan kuliah dadakan perihal segala macam yang dirasa perlu dia ajarkan yang jujur aku tangkap sebagai sedikit kompetisi kekayaan budaya negara, tapi tak terlalu aku ambil hati, mungkin dia sudah merasa puas menggurui ketika aku hanya senyum dan mengangguk-ngangguk yang padahal adalah siasat untuk segera menyudahi. Aku tak begitu mengingat apakah langkah beralih tempat yang dia ambil diselipi senyum kebanggaan atau penuh dendam sebagai penuntasan obrolan yang dirasanya tak diperhatikan. Sedangkan China, mungkin kita panggil Hua saja, sedikit marah dilihat dari wajahnya yang memerah menyala sebab satu dari beberapa koleksi beraksara bangsanya ternyata semacam kubah bagi masjid di agama mayoritas Indonesia, tapi tata letaknya tak lebih tinggi dari saklar lampu dan hampir rata dengan lumut di lantai batu. Sialnya, aku tak tahu harus berbuat apa, ditambah ketika ternyata dia fasih membaca aksara lama yang tertera, "Fortune" dan "God", katanya. Ah, di momen itu rasa-rasanya waktu berhenti, dibawanya aku ke sebuah bilik kecil yang pengap dan hanya ada dua kursi bersebrang terpisah meja besi panjang. Semacam ruang interogasi di film-film, dan sama, sesuai fungsi pada umumnya, aku diinterogasi. "Mengapa itu ditaruh disini?" lalu, "Siapa yang bertanggung jawab untuk hal semacam ini?". Sudah tentu aku menjawabnya, dalam hati. Hei, aku tak begitu mahir berbahasa asing, dan tidak bisa kalian bantah dengan mudah, apalagi jika hanya berlandaskan karena aku belajar selama bertahun-tahun di jurusan Sastra Prancis. Sialan! Itulah yang akan aku ucapkan. Terlalu panjang dan kurasa tak menarik bagi kalian jika aku menjelaskan, kita kembali lagi saja ke protesnya Hua. Akhirnya aku angkat bicara, sebisanya. Sudah tentu sembari senyum-senyum bodoh di selingan kata ibarat tanda koma, tak lupa sembari telapak tangan yang selalu bertumpuk di depan kemaluan --itulah konstruksi masyarakat ketika mendeskripsikan gestur tangan yang sopan. Dan sesekali sembari menggaruk kepala bagian belakang, sungguh, aku bisa dan sangat terbayang betapa bodoh dan muaknya aku saat itu.

Tapi, momen itu sudah pasti segera berlalu. Usai muka Hua kembali ke warna aslinya, dengan tegas aku mengajak mereka untuk segera beranjak dari ruangan arca dan berfoto di halaman depan yang ikonik dengan latar tulisan nama museum dan patung sosok pujangga ternama pada masanya, Raden Ngabehi Rangga Warsita. Menyisir sebentar semacam lorong berisi arca yang jauh dari kata terawat sebelum di ujung tampak cahaya dari sela-sela sebuah pintu besi, yang menurutku telah lama bersahabat dengan zaman dan menjalin hubungan serius dengan air hujan, alhasil beranak dua, bernama karat dan kurang menawan. Setelah mengangkat besi kait dari tanah dan membukanya secara perlahan, terik jam dua belas menyapa manja, dilanjut langkah pasti menuju spot yang telah disepakati. Sebenarnya total ada empat dalam rombongan, aku, sebagai pemandu, Durga, Hua, dan satu pemandu lainnya. Yang sudah dibawa sedari awal mereka tiba, atau mungkin lebih tepatnya dibawa dan disewa semenjak keduanya tiba di Surakarta. Tapi sungguh sialan, dia (aku menyebutnya) makan gaji buta. Sebab, semenjak panggilan bantuan dari depan disalurkan oleh Mas Security ke belakang, meja kursi panjang kebosanan tempat berkumpulnya anak magang, yang kemudian aku sanggupi dengan sangat malas sebab kawan lain tampak coba menyibukkan diri mereka untuk secara tersirat berkata "Aku tidak bersedia", dia, sebut saja Si Pemandu Jawa, langsung pamit seenak jidat dengan alasan ingin buang hajat. Keparat. Dan dari ruangan itulah aku memandu Durga dan Hua, yang sudah berada di sesi ketiga, sesi tosan aji lebih tepatnya. Kembali ke panas matahari jam dua belas, Si Pemandu Jawa yang sedari kembalinya buang tai hanya bermain gawai sepertinya sungkan dan sedikit mencoba berguna dengan menawarkan diri sebagai fotografer dadakan. Ya, untuk pertama kalinya, bersama customer kedua, aku bisa berfoto bersama. Sebab, customer pertamaku  juga membawa dan menyewa Pemandu Jawa akan tetapi jauh tidak peka. Selesai menangkap momen beberapa kali, terik sudah tidak bisa diajak berkompromi, kami putuskan menyudahi. Kurasa cukup untuk pertemuan kali ini. Tapi, ternyata penutup dari temu kali ini adalah sebuah fee, yap, lima puluh ribu dari mereka berdua untuk seorang pemandu magang dengan ilmu ceteknya. Bersyukur tentu, gembira tidak terlalu. Tapi ya sudah, meski memang tak terlalu peduli perihal pundi, selagi mereka memberi atas dasar terbantu atau mungkin terhibur dengan tingkah gagap dan bodohku, aku terima dengan senang hati. Memasuki selasar yang sudah tertutup atap, aku putuskan berbelok sebentar ke area ticketing dan reservasi, tentu dengan lima puluh yang sudah masuk dengan rapi ke kantong belakang kiri, sebab itu sudah masuk ke ranah privasi. Sungkan sudah pasti, malu pun bisa mewakili. Disanalah, aku menceritakan dua paragraf di atas kepada Bu Nia, selaku senior di ranahnya, yang tak jarang membantu para akademisi yang ingin menyusun skripsi atau hal semacamnya ke perpustakaan (terkunci) guna mengakses segala bentuk manuskrip-manuskrip lama. Sabtu, aku ingat betul, itu hari Sabtu. Oleh sebab itu, matahari siang sangat tidak tepat disandingkan dengan setelan hitam-hitam yang disepakati sebagai seragam. 

Perlu menunggu hingga Selasa tiba untuk akhirnya segala macam keluhan dan mungkin saran dari Durga dan Hua dikaji dalam sebuah rapat paripurna, yang hasilnya seperti yang sudah kukatakan di atas sana, perbaikan berbagai sisi museum yang sepertinya sudah semestinya dilakukan tanpa menunggu ada Durga atau Hua atau nama-nama istilah lainnya datang dan mengeluhkan tentang tata letak koleksi, pelayanan reservasi, atap bocor sana sini, tapi mau bagaimana lagi, aku di Surakarta yang masih bagian dari Indonesia, jadi kan memang sudah seperti itu cara kerjanya. 

-

Saat sudah tiba waktunya pulang, setidaknya menurut keyakinanku. Seperti biasa, segalanya ditata seolah belum pernah ada orang yang duduk, buku yang disusun ulang bertumpuk, dan meja dibersihkan seolah tak pernah menengadah kantuk-kantuk para anak magang yang semangatnya, terkhusus untuk memandu, 

Pulang kos, perjalanan, hujan, pertemuan, kongres bunderan, siasat-siasat, filsafat, keparat, idealisme, abang-abangan kiri, para tokoh aliansi, skripsi, sosialis-industrialis, tidur, ke kampus, bercengkrama, bersajak rindu dengan para kawan lama, makan yang nostalgia, pulang ke "rumah", berkumpul yang kurang satu, bangun pagi, menata niat, berangkat, kalah dengan penat, akhirnya merebahkan badan yang sudah jelas konsekuensinya kedandapan, berangkat terlambat dan jelas tiba pun terlampau telat. pulang, tidur, tepar.
Samping BRI Jogonalan sebagai perhentian yang ketujuh atau kedelapan, aku lupa pasti, tapi yang pasti ini sudah terasa membosankan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI