BERHASIL GAGAL

Aku sudah bersiap menyapa nirwana sedari tadi yang bisa dikata cukup lama. Tapi untuk menemani dan mengiringinya, aku sempatkan menyelam ke kehidupan orang-orang, melihat apa saja yang sedang mereka lakukan, dengan siapa waktu mereka dihabiskan, tawa atau tangiskah yang menjadi akhir kesimpulan, serta hal-hal lain yang pada akhirnya menyisakan ratapan betapa menyedihkannya aku.

Dibilang kurang bersyukur, jelas iya.
Dikata tak tau diuntung, mungkin benar juga.
Aku, sebagai manusia adalah insan yang selalu berupaya diterima dan seakan memaksa sekitar menerimaku dengan seada-adanya. Egois!
Aku, sebagai hamba ialah yang gagal dalam menikmati indah rasa ibadahnya.
Aku, adalah seorang yang gagal, dalam segala hal. Mungkin hanya satu yang aku berhasil mencapainya dengan mutlak.
Yaitu berhasil menjadi gagal sepenuhnya.

Memang sudah sewajarnya memikirkan banyak hal dan berperang di kepala atau apakah aku yang terlalu keras mendidik jiwa dan raga yang kadang sepatutnya diberi ruang untuk sekedar mencerna sejauh mana, untuk apa, dan mau bagaimana selanjutnya.
Tapi kenyataannya tak bisa, selalu saja ada, hal-hal yang berujung renungan malam perusak jam tidur tapi menjadi penenang sukma di bagian lainnya.

Kadang tentang orang tua.
Kadang tentang wanita.
Kadang tentang masa depan.
Kadang tentang ketakutan.

Yang aku sadari dan aku ingin sekali lakukan, menikmati masa-masa kesendirian hingga tiba masa dimana aku sudah selesai dengan jogja dan semuanya.
Lantas aku akan pergi, entah ke rumah untuk kembali, atau kemana saja.
Hanya akan ada aku sendiri, meratapi, merenungi, bahkan mungkin menangisi.
Apa saja, tangis duka maupun haru gembira.
Aku ingin. Bisa melunakkan ego sendiri untuk sekedar melepas segala riuh menjadi setitik demi setitik peluh.

Katanya membuat lega. Kurasa pun juga iya.
Tapi entah mengapa sejauh ini aku tak bisa.
Selalu berlindung dibalik kata yang sebenarnya hanya pembenaran semata, dimana aku tak boleh bersedih, aku harus selalu berbahagia bagaimanapun keadaannya. Sebab beban yang kubawa bukan hanya tentang perasaanku saja, ada banyak orang disana yang berharap ketika bersamaku akan berujung dengan tawa.

Tak apa, meski kadang berat dan sebal menyadarinya. Semoga aku selalu dianggap sebagai pembawa sukacita terlepas bagaimana aku ketika di dalam kesendirian dan dikoyak-koyak oleh kenyataan.


Masih banyak yang harus dicoba, semoga bisa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI