DISIRAM
Tak sengaja atau memang sudah garisnya, aku pernah membaca sebuah kutipan indah dari orang diluar sana.
Ia berkata "banyak orang ingin dirinya dicintai dengan sepenuh hati, lalu? jika semuanya berpikiran sama, lantas siapa yang akan menjadi pelakunya?" Kurang lebih seperti itu yang aku cerna.
Dan berdasar hal tersebut, agaknya aku memutuskan secara sepihak pada diriku sendiri untuk menjadi pelaku utama dalam soal mencinta. Aku akan konsisten dengan segenap harapan dan khayalan di indahnya sore menunggu datangnya rembulan, berharap ia yang kuharap dan sentiasa kukhayal bisa bahagia dan tetap menjaga indah senyumnya. Jauh disana, tak terjamah tangan kotor nan jahat dengan segala licik isi kepala.
Kuharap dan semoga.
Sebab, secara sadar aku masih tak sadar apa alasan insan lain untuk bisa mencintaiku? Aku sendiri masih meragukan dengan berbagai alasan yang pernah dilontarkan, kurasa iya, ada benarnya. Namun tak lupa, akal sehat berkata bahwa itu bukan dan biasa saja.
Lantas bagaimana? Aku saja masih belum selesai dengan segala yang ada di kepala.
Tampak sering bahagia dan membuat tawa orang sekitarnya adalah ciri dan indikasi orang yang sangat berbahaya ketika hanya menyisakan ia, lamunan, dan malam.
Komentar
Posting Komentar