HALLO
Manusia beranjak kepala dua, seperlima abad riwa riwi tak tau mau kemana dan akan jadi apa(?). Dengan sampan reot dari kayu bekas kandang ayam bapakku, aku dilepas untuk menerjang, menggilas kehidupan yang kadang keras berujung cemas.
Mau jadi apa? Apa yang kumau? Mau dikenal sebagai siapa? Aku tak tau. Masih senantiasa coba menapak untuk berjalan ke ujung yang entah kapan dan dimana guna mencari jawaban dari semua itu.
Terkadang terjebak dilema,
"Kenapa harus mencemaskan masa depan yang masih semu abu-abu hingga lupa untuk mensyukuri dan menikmati secangkir kopi, sebatang surya diapit telunjuk dan jari tengah di tangan kiri di cerah pagi ini". Tapi mau sampai kapan? Apa karena aku pribadi yang lemah dan takut untuk berjalan sendiri ke depan? Sehingga bersembunyi dibalik kata yang kususun sendiri kala sore di depan pintu kos bujang tempat segala tangis, tawa, keluh kesah asmara kawanku tertuang.
Hari baru pagi, malam masih panjang (?).
Benarkah? Yakinkah? Aku, kamu, kita semua tak tau. Jalani saja hari-harimu sembari bersabar, namun ketika sudah berada diujung kegelisahan sempatkan untuk menepi sebentar, di sepinya jalan malam atau mungkin kilometer atas kaliurang, lantas teriak "asu, kakek-ane, bwaaajingannnnnn!, jiiiaannnncookk!".
Lalu beranjak pulang kembali ke nestapa perantauan.
Komentar
Posting Komentar