PALUNG MARIANA

Sejatinya, pada dasarnya, sakjane, dan ibarat kata, setiap insan ialah seorang seniman. Baik sebagai perupa, penyusun kata yang kadang diiringi suatu irama, ataupun sejenis lainnya. Entah untuk dinikmati sendiri, dikomersilkan guna menghidupi, atau sekedar anak dari senyap meratap untuk melepas penat tergumpal di otak kiri.

Perlu tak perlu, secara sadar ataupun tidak, seringkali kali kita menjadi itu. Begitupun juga aku.

Seorang pemuda dengan segala keterbatasannya, serta semangat yang seadanya, namun harap dan khayal yang luar biasa banyaknya.

Untuk itu,
Sempat menjadi bagian dari sedikit alur kehidupanmu (bagiku) adalah sebuah karunia yang membawaku kedalam sebuah kolam air tujuh warna dengan pohon-pohon rindang berbuah nan cantik bunganya. Sajak-sajak indah yang selalu aku cipta dan kupersembahkan dengan penuh sukacita kepada sang pujaan jiwa, meski kadang merasa bahwa tak pantas jika seorang putri mahkota hanya mendapat secarik kertas yang diisi bait rasa oleh sang fakir asmara. Meski demikian, itu adalah satu hal yang tak pernah aku sesali dalam hidup ini. Mencintai. Meski hati kecil tak bisa dibohongi bahwa aku merasa tak pantas untuk semakin jauh mendampingi.


Yang aku sadari, bahagiaku adalah tanggung jawabku sendiri. Namun kala itu, bahagiamu adalah bahagiaku. Sehingga senyum manis mata sipitmu menjadi sebuah dharma bagiku yang harus aku penuhi.

Mendengar ceritamu, menemani malammu adalah bagian terindah yang sampai saat ini masih membekas dalam, walau sebenarnya susah untuk disampaikan dengan apa yang biasa aku lakukan. Padahal aku ingin semua orang tahu, ingin semuanya ikut berbahagia sama sepertiku, yang seolah siap membawa semua bagian kecil dunia untuknya dengan semangat dan bahan bakar atas nama cinta. Meski agak klise dan nampaknya terlalu muda juga berkata cinta.

Aku masih mengangumimu. Entah masih atau akan selalu. Sebab dengan sadar aku katakan, semasa itu, dengan perasaan yang ada itu, aku menjadi pribadi yang sangat ceria dalam menjalani hari dibanding puluhan tahun, ratusan ribu hari yang pernah aku lewati dulu. Entah bagaimana bisa begitu? Aku pun heran dan kuanggap lucu. Semoga bagaimanapun nanti kedepannya, aku masih bisa menjalani hari dengan semangat sama dengan waktu dulu, meski yang harus aku pahami, aku tak boleh lagi menunjukkan bagaimana perasaanku kepadamu. Aku takut itu mengganggu, merusak harimu, membuang kenyamananmu.

Kuharap aku bisa dan mampu kembali ke masa dimana diam-diam mencintai adalah pilihan terbaik melihat kondisi diri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI