PEJANTAN TANGGUNG

Tak punya uang, keluarga yang (agak) berantakan, menjalani hari sendiri tanpa pasangan, cemas dan khawatir akan masa depan. Semua itu adalah hal yang sulit diterima dengan lapang namun seiring berjalannya waktu juga yang mendewasakan.

Lalu mau bagaimana?
Pilihanku sebagai seorang pria dewasa yang (pura-pura) tangguh dan merasa bisa sendiri menghadapinya tentu adalah acuh tak acuh saja. Bagiku menangis bukan solusi sama sekali. Sebab kurasa, air mataku, air mata lelaki beranjak kepala dua ialah suatu hal yang haram dan mahal tebusannya. Hanya akan dan untuk hal-hal yang memang bukan lagi di kendali tanganku namun berimbas besar pada kehidupanku.

Mencoba senantiasa menikmati apa yang dipunya dan selalu berdoa tentang segala hal yang kuharap ada.

Sangat tak pantas dan memalukan jika harus tumbang ditengah jalan karena rintik gerimis air hujan sementara badai petir pernah ku terjang (sendirian).

Akan ada yang jauh lebih besar di depan. Pasti. 
Jadi, santai saja, rileks, selalu tampak bahagia dan baik-baik saja ditengah dunia yang makin carut marut keadaannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI