SECUIL JOGJA SEBAGAI YANG PERTAMA
Malam tadi adalah salah satu malam yang panjang diantara malam-malam panjang lainnya di kehidupan usangku. Banyak momen tercipta, baik sebagai pelipur lara, nostalgia rasa, jua aku sekilas menyebutnya sebuah wisata. Meski pada akhirnya, malam sepi tetap dan selalu sentiasa menjadi teman sejati. Bukan sebuah kebetulan atau hal yang tak wajar, sekedar menginfokan bahwa setadi malam (bisa disebut sudah pagi juga) aku tidur pukul 5 seusai adzan suci yang udaranya masih bersih sebab katanya belum tercampur dengan nafas orang-orang munafik bangun dan beraktivitas selesai berkumandang.
Apresiasi terbesar untuk sebuah tempat dengan rindang dua pohon besarnya. Sepi yang agaknya tak pernah menyapa, dengan para sejoli penuh cinta asmara yang selalu datang untuk memupuk serta merawat rasa.
Iya, Alun-alun kidul Yogyakarta. Banyak momen tercipta disana, dan tak jarang semuanya bisa disebut sebagai yang pertama. Bertemu, berbincang, tertawa dengan teman yang sekarang sudah kuanggap saudara, bercengkerama dengan yang berani kuanggap sebagai teman wanita pertama (ku) dikemas dalam tema berkemah katanya, serta yang tak akan aku lupa meski agak sebal dan gemetar saat mengingatnya, adalah momen pertamaku sebagai seorang pecundang asmara yang sedari dulu hanya berani berisik dari jauh dengan khayal bualan terhadap wanita yang selalu aku puja.
Disana,
Untuk yang pertama kalinya, menjadi saksi nyata dengan ibu-ibu penjual matcha serta takoyaki yang sebenarnya aku kurang tau itu sejenis makanan apa, melihat dan menyaksikan aku datang bertiga (dibersamai loesi tentunya) dan berjalan menyusur segala sisi dengan setapak pelan penuh makna dan cerita berdua. Berdua!! Tentu, dengan wanita yang kudamba cukup lama agaknya. Untuk itu, aku ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, kepada semuanya. Semesta, mas-mas agak sakau penjaga lukisan jerapah yang sebenarnya dulu aku pun tak pernah terbesit sedikitpun untuk mencobanya.
-
Namun, itu dulu, sudah berlalu. Tak jauh juga tak lama, namun kadang teringat kala hanya meninggalkan tembakau yang digulung rapi dan malam sunyi diiringi beberapa lagu yang kupilih sesuai gejolak hati nurani.
Malam tadi, ditempat yang sama dengan suasana yang tak jauh berbeda, aku bertemu dan melihat wanita yang aku puja dan selalu kudamba sedang berbahagia. Tidak ada namun, tidak ada tapi, bukan untuk dikoreksi juga tak harusnya menjadi alasan untuk ber-evaluasi. Hanya sekilas informasi bagi kalian yang entah kapan akan membaca ini.
Tapi yang tak bisa dipungkiri, malam tadi ditutup dengan indah kala seorang kawan lama, bahkan aku sendiri sudah menganggapnya keluarga tanpa KK tiba-tiba menyapa dan berujung dengan cengkrama sangat lama, bercumbu mesra, mengingat dan meramu cerita lama. Banyak yang kudapat, ada sedikit juga yang kubuang. Impas. Setimpal. Bagiku.
-
Pada akhirnya,
Ini untuk kalian semua, yang sudah mau dan berkenan masuk ke dalam sebuah jalan rusak penuh lubang genangan yang agaknya ketika ada pilihan jalan lain seharusnya kalian memilih jalan itu. Tapi nyatanya kalian rela untuk sedikit "mumbul-mumbul nerak geronjalan" demi menemani, mengiringi, atau sekedar menambah bumbu asik dan gokil di jalan tak karuan ini. Aku tak berharap kalian paham apa-apa saja yang ingin aku utarakan. Tapi jika tidak, mbok ya tulung paham lah yo! Dipaham-pahamno! Hehehehe.
Bersiap dengan ekspektasi terburuk agar siap ketika menerima bukanlah hal yang sepenuhnya baik, tapi juga tak sepenuhnya buruk. Tinggal bagaimana kalian sendiri menyikapinya, siap untuk bercumbu mesra dengan luka, kadang ditutup dengan pura-pura tertawa, mungkin juga menangis ditengah cerita, atau cukup dengan sebotol kawa-kawa. Bebas! Penting ga ngerusohi tanggane!
Aye!
Tuhan Maha Asyik!
Komentar
Posting Komentar