TAU (?)
Aku belum tau siapa aku, selain sebatas identitas sebagai warna negara dan anggota dari sebuah keluarga.
Sekilas yang aku sadari dan tak malu kusampaikan, aku terkadang suka dengan keramaian, sebab disana aku merasa bebas dan tidak diperhatikan. Aku benci menangis, mungkin bukan benci tapi lebih kepada susah, atau mungkin juga malu dengan dalih karena merasa itu tak menyelesaikan apa-apa. Aku kurang suka dengan kopi pahit, tapi untuk yang manis aku pun tidak terlalu suka, mungkin karena seiring dengan bertambahnya usia. Minuman paling mantap bagiku adalah es jeruk warung santai yang kadang telat pengantarannya dan juga es jeruk rumah makan nasi padang sabana murah 3. Spesifik. Karena memang hanya disitu aku sering beli. Manis dan asam, kombinasi yang cocok untuk mengiring kepulan asap surya yang kadang aku beli bersama 11 teman lainnya dalam wadah yang sama, namun tak jarang pula aku beli ia sendiri tanpa rumah yang seperti biasanya.
Aku cukup fanatik dengan berpikir kritis, tapi entah saat momen apa yang aku sendiri kurang bisa merincinya, aku juga berpikiran bahwasanya hidup ini ya lebih baik dinikmati mengalir dan mensyukuri apa yang ada, tanpa bertele-tele meramu kata seolah syarat makna yang nyaman di telinga. Aku suka melihat gambar-gambar yang bagiku abstrak, kurang jelas, tapi membekas dan mengena. Aku ingin sekali jadi seniman, tapi kurasa sama sekali aku tak punya jiwa seni. Bagi orang lain, bukan hanya soal seni, mereka bilang aku mampu, aku bisa, juga mumpuni. Tapi, kurasa karena adanya standar yang kucipta sendiri dan bersarang di kepala membuat aku malu dan takut untuk sekedar memulainya.
Tanpa kusadari, aku munafik. Tapi kadang, aku juga sadar dengan mutlak bahwa aku munafik. Terlalu keras dengan diri sendiri, membebankan segala bentuk kebahagiaan dan kenyamanan orang sekitar diatas tenang dan teduhnya perasaan sendiri. Tapi itu juga bisa terbantah, karena semisal memang aku diciptakan untuk hal itu dan tanpa aku sadari bahwa itulah sebenar-benarnya aku, ketika aku melawan dan membuang jauh semua itu, maka telah dengan sengaja membuang fungsi dan jati diriku. Sebab jika ditanya apa modal yang aku bawa untuk mengarungi segala macam problema, aku selalu tegas dan percaya berkata untuk menjadi diri sendiri, menjadi lebih baik, dan puncaknya adalah berguna bagi orang sekitar.
Ahhhh....
Aku tak tau, aku bingung sendiri. Aku malu bercerita, walau yang orang tau aku banyak omong dan membualnya. Karena kupikir itu salah satu sarana untuk melupa akan apa yang kurasa dan menghantui di kepala.
Walau sekejap, hanya sejenak.
Lalu, aku harus bagaimana, bu?
Komentar
Posting Komentar