"Masih Dengan Perasaan Lama"
Mas mohan, angkat aku jadi brand ambassadormu. Sebab, kukira di ketinggian agaknya akan sedikit merubah jam tidurku, tapi nyatanya tak ada yang berbeda.
Berbenah, bersiap, berbaring, lantas sedikit bercanda singkat dengan kawan setenda, sebelum semua setuju untuk menjemput indahnya dunia impian dalam kepala. Meskipun pada akhirnya, aku sendiri yang tersadar paksa dan beranjak duduk termenung sembari memandangi rembulan yang bulat pusar berpijar, bercengkerama mesra dengan bintang-bintang kecil yang mengitarinya mengular. Seperti mengejek, semacam mencela, kasihan sekali manusia itu yang selalu kesepian meski sedang dalam kerumunan. Katanya, sepertinya.
Tapi tak apa, itu karena rembulan dan bintang-bintang tak terlalu mengenalku yang memang di penghujung harinya hanya bersama remang lampu kos bujang terhalang jemuran, kepul asap surya, lalu suara riang ketawa kencang dari burjo depan sana.
Mundur sedikit.
Aku sudah bisa mengeluarkan asap dari mulut, dulunya sebatas angan kini telah tuntas dan menjadi kenyataan.
Impian kecil, sepele, juga mungkin konyol bagi sebagian orang.
Tapi persetan!.
Berjalan melewati dua adzan malam, diiringi senyum bahagia juga suara nafas yang mulai tak karuan. Juara, Dji Sam Soe, Surya, dan teman sejenis lainnya yang mulai menunjukkan tajinya, berujung istirahat lama, kemudian lanjut dua atau tiga anak tangga dan kembali duduk bersila.
Wajar dan sudah bukan lagi hal yang mengagetkan. Tanpa persiapan yang cukup matang, hanya bermodal semangat dan upaya merawat libur agak panjang agar tak terbuang usang.
Namun sialnya, setelah segala macam drama yang ada dan sudah sewajarnya, semestinya, seharusnya untuk rehat dan istirahat, aku malah terbayang bagaimana jika semua itu tadi kita lalui berdua? Aku bahkan sudah siap dengan (mungkin) drama yang lebih besar nantinya. Ketakutan, kedinginan, bersama menyusur dan memilah jalan menghindari licin bebatuan, diiringi suara jangkrik yang tak berhenti menyapa sepanjang perjalanan. Juga mungkin sedikit tangis kala lelah dan hasrat menyerah datang, namun kembali bertekad kemudian merayu semangat agar mau berkumpul dan sepakat lanjut berangkat.
Masih saja. Sial. Sungguh sial.
Tapi, khayalan-khayalan ini tak lagi berujung diam ratapan dan penyesalan, tak lagi seperti hari-hari belakangan dimana pasti menjadi renungan dan putaran kencang dalam pikiran.
Mengapa harus diutarakan?
Bukankah sedari awal sudah sadar, bahwa dia bak rembulan yang kini sedang kau pandang, terlalu jauh untuk diraih dan seharusnya lebih memilih tetap di bumi lalu berbaring menikmati. Dasar. Aku.
Kini sudah hampir berganti hari, aku harus segera kembali, kembali berbaring dengan rapi, kepala sejajar kepala, demikian juga kaki. Sebab esok kami berjanji untuk menyapa mentari, menikmati pagi, menyelamatkan hari. Sebelum berhadapan dengan segala kejutan dalam perjalanan pulang nanti.
Tak apa. Mungkin saat ini akan menjadi pengalaman yang malas untuk diulang. Namun kelak, semasa rambut penuh uban, kemana-mana sarungan, merawat burung dan menyiram tanaman sebagai kesibukan, menyapa orang lewat dengan kopi di meja dan koran ditangan, momen-momen inilah yang kembali terlintas di pikiran, mengepul sebagai kenangan, lantas diceritakan pada cucu-cucu saat lebaran. Cup!
Huh! Hah! Huh! Hah!
Tak peduli meski kalian tak melihatnya,tapi sekali lagi aku beritahu.
Sudah tuntas impian untuk keluar asap dari mulutku.
Komentar
Posting Komentar