59 DARI MULANYA

Yang kesatu dari tujuh, mulai menentukan arah tuju, bersiap kembali bersahabat dengan debu. Dengan semangat yang tak terlalu bulat, dengan sisa nafas dana yang dipenuhi siasat, memutuskan untuk keluar dari rutinitas belakangan yang sudah mencapai penat.
Bercumbu mesra dengan sang peredam lelah yang sudah meliuk dan tipis ditengah bak sebuah sampan, kurang dari tiga yang menemani tidur dalam pelukan, juga lebih dari dua sebagai penopang kepala yang sudah cukup jauh dari kata nyaman. Serta tak lupa segala lainnya yang ada dalam sebuah bilik sederhana tempat jiwa dan raga yang rapuh meredam semua di masa penuh sandiwara.


Berangkat di jam biasanya, bukan pelan namun memang seperti itu paksa lajunya. Menuju ke sebuah tempat yang memang sudah akrab sebelumnya, menyapa yang ada disana dengan jejak tapak perjuangan di suatu kala, berharap mendapat atau membuang apa saja yang memang sudah sepatutnya. Tiba di saat yang semestinya, meski agak hilang arah seperti di kehidupan biasanya. Sudah ada yang menanti, dengan hangat sambut dan senyum sedikit berseri, mulai meramu cerita, dari yang dulu hingga yang baru saja. Strategi-strategi yang sudah disiapkan, segala tujuan yang telah dimantapkan, namun juga bermacam ketakutan yang cepat atau lambat akan segera datang.


Kemudian bersiap untuk menyapa dingin pagi, menyusuri serta memaknai apa saja yang sudah dan akan dijumpai. Selang yang tak terlalu lama, berdua bersama telah tiba untuk ikut berjumpa. Empat karib dengan tujuan yang tak jauh berbeda, sepakat menyisir menyapa bulan yang bulat sempurna dengan penjual donat dan bunga di sepanjang jalannya. Menepi di Manahan, melawan dingin malam dengan hangat percakapan.
Naik turun dunia perkuliahan, sisip manja membicarakan orang, serta pengalaman baru yang di dapat di lingkungan perantauan. Untungnya kali ini banyak yang diambil dan belum ada yang dibuang.
Esok akan kemana dan berbuat apa sudah direncakan, tinggal berharap semoga saat mata terbuka selepas terpejam yang terlihat bukanlah sang rembulan. Selain itu namanya kemalaman, juga berarti sudah banyak waktu yang terbuang. Meski terkesan niscaya melihat bagaimana di saat fajar menyapa kami masih hangat larut dalam cerita, namun bukankah harap dan memanjatkan semoga tiada salahnya? Tapi jika ternyata yang dikhawatirkan benar menjadi nyata, mungkin itulah satu yang belum tiba dan terbuang pada akhirnya.


Mencoba merawat masa libur panjang supaya tidak terbuang usang, mencoba menjadi mandiri dengan upaya mencari pundi-pundi. Namun berakhir seperti ini, hanya meratapi, memaklumi, serta berpasrah dengan apa yang sedang terjadi. Tapi tak dapat dielak juga tak bisa ditolak, masa masa seperti ini adalah bagian dari apa yang memang sudah sewajarnya ada. Gagal terasa bagi pemeran utama, namun kadang tak sejalan dengan apa yang dilihat para pemirsa.


Ya sudah, ya sudah.
Mau dipaksa bagaimanapun juga jika memang sedang di masa bercumbu mesra dengan nestapa akan selalu mengeluh diujungnya.
Toh, kita semua juga sudah tak asing dengan hidup kadang diatas kadang di bawah, bukan? Jadi cukup sabar dan tabah serta tetap menjaga senyum indah pura-pura tak ada apa-apa untuk terus merekah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI