BANYAK JIKA, SEDIKIT MAKNA.

kalau saja hamba orang kaya,
hamba mungkin takkan merasakan cinta.
jika saja hamba orang berada,
bukanlah engkau yang ada di radar mata.

untungnya hamba orang tak punya.
yang untuk mencinta saja banyak sekali pertimbangannya.
syukur hamba kurang perihal dana.
hingga bait-bait penghibur semacam ini cukup banyak yang tercipta.

menyedihkan? atau menjijikan?
apa yang akan tuan dan puan sematkan?
guna menghakimi berbagai macam khalayan yang ditemani terang rembulan.
apa tidak terlalu banyak waktu yang kan terbuang?
hamba hanya bertanya,
sedikit mencela, memang.

sebab, apakah tuan dan puan merasa dirugikan?
apakah hamba sangat menggangu sebagai sebuah kehadiran?
ah, dulu semua itu jadi bahan renungan panjang.
dulu sekali tapi, sekarang hamba sungguh benar tak terlalu peduli.

mau khalayak banyak omong, menggonggong, gerak serong, atau pergi ke Serpong.
hamba tetaplah hamba dengan banyak omong kosong, dengkul kopong, janda bolong, dan sebait kata hong!.

yang harus hamba akui,
hamba memang sendiri dalam menjalani hari.
tapi dingin malam dan senyap sunyi masih sering menemani.
dikala mungkin yang lain sedang dalam hangat peluk orang yang dikasihi.
250 dengan menyodorkan ktp dan bekal sebotol intisari.
yang katanya untuk awalan sebelum akhirnya mencicipi.

mencicipi obrolan tentang perkuliahan, naik turun perjalanan, lika-liku kehidupan.
dan lain-lain hal yang sejujurnya hamba dapat dari omongan teman.
sungguh, serius, betulan.

lagipula,
dengan apa yang hamba punya,
momen berdua bercengkerama membicarakan dinosaurus , macan tutul, dan jerapah pincang,
dengan puan yang tersayang.

sudahlah lebih dari cukup,
manis dan sejuk udara yang terhirup.
dan kini, hamba harus bergegas pulang.
kembali ke rutinitas yang agaknya bosan sudah nyaman bersemayam.
kembali membayangkan
bagaimana jika kelak,
yang saat ini hamba khayalkan.
tuntas menjadi kenyataan.

ohhh, 
betapa sombong dan angkuhnya hamba,
hamba pasti tak akan lagi kenal menyapa.
tak kan akrab dengan cengkrama.
tiada guna, hamba kira.

malam bersanding ratapan,
air hangat, rokok ketengan.
pagi yang kesiangan,
sehari penuh, bermacam ketakutan.
apa itu? cuihhh.
hamba yakin itu semua takkan lagi ada.

sayangnya, hamba takkan bisa.
semua yang diatas dan beberapa lainnya,
adalah khayalan di dalam khayalan.
yang hamba sendiri dengan sadar mengatakan,
bahwa semuanya terlalu indah untuk diwujudkan.
biarlah tetap menjadi angan,
beristirahatlah panjang di empuknya awan.


hamba takkan mungkin meninggalkan loesi sebagai kendara sendirian,
ia takkan hamba biarkan mengitari Malioboro tanpa tuan.
terlalu mengerikan.
kadang berdua saja masih pulang dengan renungan, segala macam penyesalan, dan semalaman yang harus kembali terbuang usang.

tak mau dan tak akan tega.
dan juga banyak tawa dari mungkin kalian kalian semuanya,
yang sudah hamba jadikan sebagai dharma.
tak apa.
itu juga membuat hamba bahagia,
sejenak melupakan semua beban isi kepala.

tenang, tenang.
meski hamba sadar tak terlalu diharapkan,
namun hamba tetap akan hadir dan ada jikalau tuan dan puan memang benar membutuhkan.
tak usah malu tak usah sungkan,
soal bayaran bisa dibicarakan.

sebungkus penuh tawa,
setengah gelas cengkrama.
sudah. sudah cukup menutup semua biaya.


sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI