CUKUP
Sepekan di lingkungan yang membesarkan, cukup tenang sedikit menyedihkan. Memutuskan menepi dari kehidupan perkotaan yang juga tak terlalu metropolitan, karena masih banyak senyum agak kerepotan dari ibu-ibu penjual jajanan pasar, yang sejujurnya hanya beberapa kali kujumpa, selebihnya masih nyaman di segala puja isi kepala atau dingin air menuju dingin udara dalam bilik akademika.
Banyak yang memang sudah diterka dan pada akhirnya menjadi hal yang benar-benar ada, segala bentuk keluh, bermacam jenis lelah tubuh. Yang semuanya terjadi guna menghidupi, kadang memberi, serta yang pasti untuk sekedar bertahan agar tetap bisa berjalan di skenarionya Gusti.
Banyak yang memang sudah diterka dan pada akhirnya menjadi hal yang benar-benar ada, segala bentuk keluh, bermacam jenis lelah tubuh. Yang semuanya terjadi guna menghidupi, kadang memberi, serta yang pasti untuk sekedar bertahan agar tetap bisa berjalan di skenarionya Gusti.
Produktivitas jelas tak nampak meski sekedar sekilas, mengeluhkan keadaan lumayan mengepul dan memanas, bercumbu mesra dengan kesedihan mulai agak sedikit terpangkas, sebab tak bisa dipungkiri ketika berada disini ada berbagai jenis kesedihan lain yang wajib dihadapi lagi. Bukan berarti renungan malam berteman tembakau lintingan sendiri sudah tak ada lagi, tetap ada bahkan lebih rutin karena disana dan disini ada masing-masing yang ditanggalkan juga ditinggal. Profesional.
Lingkaran yang sudah mulai tak berbelas orang. Tinggal menyisakan dan menyajikan bertiga, berempat, tak jarang berdua dengan sepi saja. Memang sudah sewajarnya seiring semakin banyak beban pikul yang dipunya, mengharuskan pulang adalah kata yang pantang sebelum memang mengakhiri terbesit sebagai solusi. Mencoba lebih dalam belajar menikmati serta menghayati segala kecukupan, tanpa berharap lebih terhadap berbagai kelebihan. Mencukupkan segala kesedihan, membesarkan tawa riang kebahagiaan. Segala semoga dipanjatkan, banyak pantas yang diupayakan. Terus menimba segala hal tentang menjadi lelaki dewasa, diam dan berteman akrab dengan luka, namun merekahkan simpul bahagia untuk yang lainnya.
Mati-matian agar tidak mati.
Minim apresiasi.
Dikoyak-koyak sepi.
Sedikit terintimidasi.
Lebih banyak sadar diri.
Komentar
Posting Komentar