IZIN BERTANYA

Puan, dimana kau memperdalam ilmu?
Jarang terpampang.
Namun sekalinya iya, kau berhasil merubuhkan hampir seluruh benteng pertahanan.
Begitu hebat, entah pesonamu, personalmu, atau secuil kisah indah dulu itu. Bagiku. 
Jelas bagiku, aku tak mampu mengatakan bahwa kau merasakan hal yang sama denganku kala itu, tak mau serta tak berani menerka apa saja yang masih kau sembunyikan sebagai jalan untuk menghargai segala hal sederhana terlampau jauh dari istimewa yang aku lakukan. 

Rapuh demi rapuh telas tuntas menjadi runtuh. Berpuluh-puluh hari kubangun dalam lelap dan diam bisu agar tak kembali tersenyum haru kala melihat wajahmu. Sialnya, saat tiba ketakutan itu, dengan mudah aku kembali ke masa dimana bahagia yang kurasa kala itu adalah salah satu rupa bahagia baru selama carut marut kehidupanku. Kembali terlintas setiap kata perkata yang kau ucap dan kudengar dengan pasti, yang kemudian kucipta sebagai bait demi bait penyemangat pagi, penyelamat hari.


Yang sedang kujalani dan senantiasa coba kuyakini,
"Bukan berarti jika aku diam, aku berhenti menjadikanmu sebagai tujuan"
Memang, dalam pesan aku diam, dalam doa aku tak terlalu berani riuh memanjatkan. Namun, jauh di dalam masih bertahan segenggam kecil harap dan lintas kenangan. Singkat memang, bahkan tak menyalahkan jika sebagian orang menyebut itu sebagai hal yang berlebihan. Tapi pada dasarnya, pemeran utama, para pemirsa, dan Sang sutradara jelas memiliki cara pandang dan paham rasa yang jauh berbeda.
Yang aku tahu dan semoga benar firasatku, aku berhasil tidak mengganggumu meski aku gagal untuk tidak merindukanmu.


Ambigu. Tak bisa sepenuhnya menyalahkanmu, meski tak bisa juga menaruh semua salah kepadaku. Aku yang terlalu dalam hingga lupa diri, dengan puan yang memang tiada maksud untuk tak perduli. Entah memang aku yang terlampau pecundang atau puan yang bermain curang. Dalam tenang menjalani harimu, dengan tekad menenggelamkan isi hatiku.
Hal-hal ini terjadi sebab malam sepi kembali kerap menjumpai, organ dalam yang semakin terkontaminasi, dan kegagalan yang mulai nyaman bersemayam dalam diri.


Mau mengeluh jua tiada arti, mau mencoba menikmati juga susah setengah mati.
Setidaknya aku pernah didukung penuh oleh semesta dan seisinya untuk sekedar berjumpa, bertatap muka, dan bercengkerama. Jika memang nanti didepan kembali datang satu kesempatan, semoga aku tak terlalu lama menimang dan mempertimbangkan.
Meski mungkin kembali berujung renungan, setidaknya akan ada beberapa ragu yang dituntaskan. Karena lari dari apa yang menyakiti hanya akan semakin menyakiti.
Aku akan siap terluka hingga sembuh sepenuhnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI