SEHARUSNYA, KURASA.
engkau angkuh, seharusnya.
sebab kurasa mampu dan bisa.
dengan segala yang engkau punya.
sebab kurasa mampu dan bisa.
dengan segala yang engkau punya.
tapi apa, tidak ternyata.
bahkan aku, sang jelata.
tetap bisa bercengkrama.
sedikit menerka,
dan jatuh hati pada akhirnya.
oh, sungguh
jika engkau rembulan,
aku hanya semut kecil di balik ilalang.
jika engkau ibarat mentari,
akulah pelacur yang sombong yang tak pernah menyapa pagi.
jika engkau adalah apa, aku mungkin sebuah niscaya.
jika engkau ibarat mengapa, aku hanya sebatas siapa.
dari dua dan beberapa lainnya
aku tiada makna, tiada guna.
engkau tetap engkau dengan segala indahnya,
dan aku, tetap lelap dalam khayal di beberapa sisanya.
bajingan ataupun pecundang,
yang akhirnya disematkan
tak lagi menjadi diam renungan.
selagi engkau masih di bumi,
tiada lagi alasanku tuk bersedih hati.
sudah sangat indah, dan tak perlu diubah
masih sebumi, selangit, dan seagama.
meski sejujurnya,
sangat menyedihkan di sisi lainnya.
tapi tak apa.
sungguh tak apa.
engkau, tetaplah jalani harimu.
dengan tawa manis mata sipitmu.
aku juga dengan hariku,
bersama rasa dan harap bersemayam dalam kalbu.
karna satu yang pasti,
dan sampai kini jadi yakinku,
perihal dicintai atau mencintai,
aku lebih memilih turu.
sebab semuanya hanya sebatas mimpi, bagiku dan segala seok-reok kehidupanku.
Komentar
Posting Komentar