YANG KESATU MESKI BUKAN SEBELUM DUA YANG KALA ITU

Selayang pandang,
Sudah sangat jarang aku menyapa jam 9 pagi. Begitu juga dengan jam 10 dan 11, saat terik-teriknya sinar mentari.
Kadang mengucap salam sebentar kala jarum pendek di puncak perputaran, selebihnya kembali sombong kepada 1 siang sampai 3 menuju petang, hingga ibu pulang atau perut lapar keroncongan yang memaksa untuk bangun dan beranjak dari seiris kenyamanan.

-

Hallo dan hai. Kembali lagi di tahap ini.
Kesempatan untuk memperkenalkan diri, bukan hanya untuk kalian semua yang entah kapan akan membaca, tetapi juga kepada aku sendiri, yang semakin lama semakin jauh, semakin jauh semakin tersesat, dalam menempuh jalan dari-Nya ini.
Ini adalah tulisan tentang aku yang entah keberapa. Karena memang pada setiap gejolak yang dihadapkan, aku mulai tak malu untuk mencurahkan. Semacam pelarian, seperti pelampiasan.
Mengutarakan apa saja yang aku rasakan kini, di momen aku masih kerap bercengkrama dengan malam, sembari menunggu mentari datang menggantikan rembulan.
Untuk saat ini, yang perlu sedikit aku garis bawahi, aku tidak memiliki bakat berpuisi, hanya saja aku senang ketika melihat tulisan yang disusun rapi kata perkata, sehingga terdengar berirama dan nyaman untuk dibaca, didengar, atau sekedar dilihat mata. Jadi cukup malu dan sedikit kaget ketika beberapa orang menyematkan sebutan puitis untukku.
Untuk itu, sejenak akan kucoba menuliskan semua yang memang sedang dirasa tanpa memperdulikan bait irama supaya renyah masuk dalam telinga. Meski kuyakin akan sulit, mungkin juga berakhir rumit. Sebab pada kenyataannya, itu adalah alasan utama banyak ingin dan mauku yang akhirnya tersisihkan dan dikesampingkan demi mengikuti idealis konyol yang sewajarnya tak harus selalu diberi makan.
Mulai dari sini, mari kita lakukan!

-

Aku pribadi yang cukup ingin diapresiasi, namun tak suka jika jadi pusat perhatian.
Akulah orang yang bingung ketika dipuji, namun kadang tak senang ketika diremehkan.
Tak banyak yang aku sadari dengan percaya diri untuk diungkapkan sebagai kelebihan, yang aku harapkan adalah orang lain yang sadar dan kembali menyampaikan. Egois memang. Tapi sejauh ini tidak dapat diubah dan aku selalu mengharapkan hal yang serupa. 
Justru aku lebih tak malu jika diajak membahas kelemahan, bagaimana konyol, nakal, urakan, tertinggalnya aku bagi orang-orang. Entah disaat ini yang baru terjadi atau dimasa dulu yang telah usai berlalu.
Meski pada akhirnya terasa untuk apa juga.

Tanpa disadari, aku selalu memberi tanggung jawab pada diriku sebagai pembawa tawa di setiap lingkaran dimana aku berada, terlepas dari semua masalah yang ku punya, karena memang aku sungkan dan merasa kurang jantan ketika harus menceritakan. 

Tetapi aku sadar betul, bahwa aku adalah manusia kesepian, mungkin kurang perhatian atau juga kasih sayang, atau mungkin lebih kepada tidak adanya seseorang yang memang merasakan segala permasalahan yang ketika kita saling bercerita tidak menimbulkan canggung di tengah cengkrama. Bisa jadi karena dia tak merasakan, atau aku yang memang terlalu berlebihan. Sebab tak hanya sekali ceritaku menimbulkan senyap dan diam sejenak ditengah obrolan, yang setelah aku pikirkan ternyata memang lawan bicaraku belum atau bahkan tidak akan mungkin merasakan. Perihal pundi, transportasi, kurang percaya diri, segala polemik dalam rumah dan isinya, persoalan cinta, dan masih banyak lainnya. Yang saat ku tulis inipun aku terserang lupa.

-

Selanjutnya,
Aku merasa aku adalah seorang yang perfeksionis. Sifat atau hal yang sejauh ini lebih banyak menimbulkan batas-batas keberanian untuk bebas berkarya, lepas berduka cita, dan lain hal semacamnya di dunia nyata. Yang pada akhirnya hanya mengutamakan khayalan, mengabaikan kenyataan.
Selalu membayangkan banyak hal ketika kesepian, bagaimana jika suatu saat di masa depan aku mempunyai segala hal yang sekarang hanya sebatas angan-angan, harapan untuk merangkul kemudian meracik bahagia beramai-ramai dengan orang tersayang, mempunyai hunian dengan bermacam kendaraan impian, pakaian hasil buatan tangan dengan berbagai corak coretan, membangun wadah bagi para sahabat, kawan, kenalan untuk berkreasi sesuai kemauan.
Bebas. Tuntas. Tak terbatas.
Begitupun dengan hal-hal menyedihkan yang kadang memang berdasar kenyataan namun sedikit diramu untuk semakin dalam yang berujung semalam penuh terbuang usang. Kembali membakar tembakau andalan, mendengarkan musik yang disesuaikan keadaan, dan segala hal yang semakin membuat diri seolah-olah manusia paling tersakiti, terabaikan, ditinggalkan, dan disisihkan. Terlepas dari konyol dan menjijikan, jujur aku menikmati semuanya dengan caraku sendiri yang selalu kupastikan supaya tak merugikan kerumunan.
Sunyi. Sendiri. Meratapi.

Namun dengan semua itu pula, aku menjadi dilema ketika berada di titik dimana seharusnya aku bersedih, menangis, tertawa, juga bahagia. Titik dimana seharusnya aku menjadi manusia sebagaimana mestinya. Ratapan-ratapan dan khayalan-khayalan tadi secara tidak langsung membuang perasaan yang sudah sepatutnya diikutsertakan dalam kenyataan.

Kalimat "laki-laki tak boleh bercerita" masih bersemayam dalam kepala. 
Sial dan sialan memang. Sungguh, sialan. Aku tau itu merugikan, menghancurkan, dan menjauhkan aku dari ketenangan yang sejak lama aku impikan.
Namun tak dapat rubuh, tak jua runtuh.
Munafik jika aku menikmati sepenuhnya, bohong juga jika aku hanya menderita.
Asu. Aku harus bagaimana ini?
Kupikir hidupku masih lama, meski kadang terlintas untuk apa hidup terlalu lama jika dosa yang berkuasa? Semoga matiku dan matimu mati muda. Sepenggal lirik dari Jenny, yang tak sepenuhnya hanya fantasi.

Sekali lagi, aku malas untuk terlalu banyak bercerita namun berharap dengan sangat agar orang paham betul tanpa aku bicara. Menyedihkan sekali melihat aku selalu mendengarkan, mencoba masuk untuk merasakan, dan berupaya memberikan apa yang kiranya lawan bicaraku butuhkan. Kenapa harus begini? Kenapa harus aku? Atau mungkin orang lain juga banyak begitu? Kurasa tentu. Dan untuk itu, semoga aku dipertemukan dengan orang-orang seperti itu. Meski entah kapan saat itu tiba, masihkah aku diberi nyawa dilengkapi tawa.
Kupanjatkan semoga.

-

Aku sedikit takut gagal. Selebihnya takut mengecewakan orang di sekitar.
Namun tidak itu yang aku utarakan. Orang menilai aku adalah orang yang selalu riang tertawa, tidak memiliki polemik dan problematika, bahkan banyak bermain wanita. 
Untuk semua itu, tak lagi aku mengambil hati terlalu. Sebab aku sudah sedikit sadar dan membuang diriku dulu yang harus diterima di semua lingkaran percakapan dengan apa adanya aku, tidak dikurang tak juga ditambah. Dengan muka sombongku katanya, watak yang angkuh ucap mereka, celetukan dan guyonan yang tak jarang merusak suasana, dan bermacam hal lainnya. Sedikit dari itu sudah kubuang semua. Aku sadar dan mulai memilih merawat dan menjaga mereka yang memang lebih kurang tetap bertahan serta mau aku ada bersama mereka terlepas dengan kabar burung tentang aku diluar sana.


Sejujurnya, aku tak tau harus pulang kemana, selain sejauh ini berada di dekat ibu. Namun dengan bermacam tingkah lakuku, pola hidupku yang sejatinya adalah larangan ibu, dan segala hal yang timbul dari semua itu, terkadang aku sangat malu untuk kembali kepada ibu. Anak yang tak terlalu menurut, cukup banyak menuntut, padahal tak jarang tak mau untuk sekedar mendengarkan apa yang diutarakan. Aku tidak malu mengakui itu, namun yang jelas itu sangat menyakiti ibu. Hanya ibu satu-satunya alasanku untuk tetap tertawa dan bahagia yang entah pura-pura atau memang benar dan nyata karena menikmati masakannya yang mungkin jauh dari kata megah mewah digdaya. Hanya beliau, tidak ada lain, tidak akan terganti. Mungkin senakal-nakalnya aku, sebebas-bebasnya menjalani hariku, dengan segala konsekuensi dari bermacam ulahku, senyum simpul haru bahagia ibu selalu menjadi klasemen nomor satu. Aku ingin sekali membuat ia sangat sangat bangga dengan apa yang aku telah gapai, dengan segala yang sedang kuupayakan capai. Sangat sangat bangga. Terlepas untuk meraihnya mungkin dengan jalan dan cara yang aku yakini dan tak jarang sedikit melawan dari yang beliau harapkan.


Sudah subuh, ibu pasti bangun untuk membasahi muka, kemudian mendoakan anak-anaknya, lanjut membangunkan matahari, menyirami pelangi. Langit disapu, ke dapur meracik bumbu, dan bersiap menebar bahagia ke setiap sudut rumah.

Akupun harus bergegas masuk dan bermain peran seolah baru bangun dari lelap tidur dan indah mimpiku, mungkin kemudian berangkat menuju rumah-Nya untuk menunaikan yang sudah seharusnya.
Sialan.
Bahkan setelah semua ini aku masih berbohong pada ibu, meski yang kutahu, ibu tentu sudah sadar akan itu.

-

Ini aku sematkan sebagai tulisan terpanjang sejauh aku memutuskan untuk menumpahkan segalanya dalam bentuk akhir berupa tulisan. Tak banyak yang dapat orang lain dapatkan memang. Peduli setan.
Masih sangat egois.
Hanya berisi tentang aku, idealis konyolku, masalah-masalah yang tak terlalu sebegitu dan tentang sosok ibu. Mungkin nanti, ketika aku tak terlalu malu dan kuharap tak perlu menunggu ada momen tertentu, aku akan menuliskan bagaimana sosok ibu. Yang tentunya secara personal dan general dapat disimpulkan bahwa satu-satunya rumah untuk pulang adalah ibu.
Persetan dengan segala kelam masa lalu dan cerita keluargamu. Bermacam liku, berbagai ragu. Yang aku yakini sekarang hingga nanti, semua ibu adalah orang pertama dan terakhir yang wajib kalian jadikan titik tuju.


Si Yu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI