SEDIKIT DI MALAM ITU
Saya tadi memasak. Sebutir telur, masing-masing satu siung bawang putih dan bawang merah, empat bakso dari dalam freezer, tak lupa memberi sejumput garam, se tabur merica bubuk, dan sedikit harapan.
--
Malamnya, saya agak bimbang, apa yang harus saya lakukan, kemanakah yang jadi titik tujuan. Akhirnya, di jam 10 malam, saya memutuskan keluar, diterpa angin malam, berharap mendapat ketenangan, sembari menyelami kehidupan buatan dari teman-teman. Harapannya.
Tapi, di tempat yang coba saya tuju ternyata ada lingkaran penuh berisi para kawula muda yang duduk rapi bersila. Dan tanpa pikir panjang, sayapun putar balik pindah haluan, disengaja lebih pelan agar lebih akrab dengan dingin malam. Tanpa berputar-putar membuang waktu, saya kembali ke rumah untuk kembali melanjutkan apa yang sebenarnya tak perlu juga dituntaskan, menyiasati mencari kabar dengan duduk diam di depan layar agak besar.
Setelah cukup lama untuk yang kedua, saya membulatkan tekad untuk lebih cepat menyapa nirwana, sekitar jam 11 atau mungkin 12 kurang. Seperti biasa, menyempatkan menonton beberapa video yang memang sudah diunduh cukup lama dan akhirnya diulang kembali. Hingga tanpa sadar sudah tidur dan lelap dalam mimpi. Kemudian terbangun karena kegagalan, lanjut minum dan membasuh muka dengan kesadaran. Setelah dirasa agak segar, kembali mencoba untuk menuju nirwana, namun agaknya kantuk sudah pulang ke rahim ibunya, hingga akhirnya saya kembali terjaga.
--
Sepiring nasi dan telor, segelas hampir penuh es sirup. mengendap ke dalam kamar, membolak-balik susunan pakaian, untuk mencari sebatang nyala sebagai penutup hidangan. Seusai ditemukan, bergegas ke depan, ditepi sawah luas, dibawah mangga yang lebat berbuah, ditengah riuh jangkrik, disamping tiang listrik, dan di dalam beragam masalah.
Memanjatkan doa semestinya, terima kasih atas segala pemberian-Nya, semoga disisipkan berkah di dalamnya. Mulai lahap menikmati, sembari sesekali meminum es sirup yang tersaji. Setelah sudah habis segala penyesalan, mulai bersiap mengepulkan ketakutan, menikmati tarikan demi tarikan yang di setiap keluarnya sedikit merasa lega dan terwakilkan. Butuh waktu yang cukup lama untuk menghabiskan, yang memang tak ada ritme dalam upaya penuntasan. Setelah semua dirasa cukup, kembali masuk dan membersihkan semua kekacauan sebelum kembali merebahkan tubuh sejenak. Harapannya, semoga tidak terlalu lama, karena ada banyak tanggung jawab dan beberapa kewajiban yang harus diselesaikan.
Komentar
Posting Komentar