SUDAH LAMA AGAKNYA
Di seberang, ada seorang anak yang tertawa riang. Namun tak lama simpul bahagianya hilang. Ternyata balon yang ia genggam telah lepas dan terbang. Secepat itu semesta membolak-balikkan keadaan. Namun bukan itu maksudku, dalam tangis dan tawanya ada sisip makna sederhana.
Mari kawan, menepilah sebentar.
Bolehkah ku minta sedikit waktumu yang penuh kepenatan?
Kejadian diatas sungguh tak sulit untuk dibayangkan bukan?
Coba sebentar bayangkan dan resapi hingga dalam.
Hanya sebuah balon dan bisa beli lagi?
Itukah selintas yang terbesit sebagai pertanyaan?
Namun bukan itu maksudku, aku mau kau tau betapa jauhnya aku, kamu, dan kita semua yang sebaya dengan pelik yang tak jauh berbeda untuk sedikit membuka mata, sebentar melihat di sekitar kita, apa saja.
Sudah sejauh mana? Membuang apa saja? Setelahnya, kita telah mendapat apa? Yang paling utama, untuk apa semuanya?
Mohon ijin aku tuk bertanya,
Kapan terakhir kali kau dan kita benar-benar merasa bahagia?
Sudah lamakah rentangnya, semenjak kau dan kita betul-betul tertawa yang tidak berpura-pura?
Bagaimana? Aku bertanya.
Kepadamu, bahkan pertanyaan yang sama juga untukku.
Agaknya, aku, kamu, dan kita semua sudah terlalu jauh dan lama merasa itu semua.
Dari kita, balon ialah hal yang sangat sederhana. Tapi tidak bagi beberapa dari mereka yang perlu menjadi juara satu, menjawab berbagai pertanyaan dari ibu guru, atau tak menangis kala disiasati ibu. Yang katanya "sana mandi dulu, ibu tunggu".
Itu dan ini.
Ini dan itu.
Bukan tentang balon lima ribu, lebih daripada itu.
Sebuah hal kecil namun fatal yang sudah lama kita semua tak berjumpa.
Tawa yang sebenar-benarnya tawa.
Tangis yang seutuhnya tangis.
Sedih dan senang yang memang tanpa direkayasa.
Kita sudah jauh dari itu.
Apa benar, ketika semakin dewasa semakin tinggi pula standar kita untuk berbahagia?
Betulkah, semakin bertambah usia semakin banyak tawa yang harus dipura-pura?
Iyakah? Kurasa tidak
Komentar
Posting Komentar