SEDIKIT SEKALI, DARI ANAKMU INI.
Selamat hari ibu, nggeh bu.
Rahayu. Sehat selalu. Barokah always kehidupanmu.
Serta semoga senantiasa diberikan kemudahan, dada yang lapang, sabar ingkang jembar, juga kuat untuk senantiasa bersabar dengan beragam ujian yang diberikan.
Punya anak bandel misale. Hehe.
Rahayu. Sehat selalu. Barokah always kehidupanmu.
Serta semoga senantiasa diberikan kemudahan, dada yang lapang, sabar ingkang jembar, juga kuat untuk senantiasa bersabar dengan beragam ujian yang diberikan.
Punya anak bandel misale. Hehe.
Terima kasih atas semua waktu yang sudah dicurahkan, disempatkan, bahkan direlakan. Merawat kami melebihi merawat diri ibu sendiri. Memupuk kami dengan cinta juga menyirami kami dengan doa. Menyisihkan segalanya, yang agaknya bisa menggapai sedikit yang ibu impikan sejak lama, membuat apa saja untuk senyum ceria anak-anaknya, meski kadang ibu sendiri tak terlalu suka. Dan masih banyak lagi lainnya yang jelas tak akan cukup satu waktu kesempatan hidup di dunia ini untuk merinci semuanya. Hanya memberi tanpa meminta. Jelas sebagai manusia biasa berlumur dosa, agak berat untuk membalas itu semua. Mungkin benar saja, bahwa ibu dan ibu-ibu lainnya adalah utusan surga, yang memang kesanalah pulang sebenarnya dengan beragam imbalan setimpal semasa merawat anak-anaknya sudah disiapkan oleh Sang Maha. Semoga.
Terima kasih sudah memilih bertahan dengan bermacam terpaan, cacian, cemoohan, dan hal-hal yang dijadikan orang-orang alay diluar sana sebagai alasan untuk memilih berhenti dan menyudahi. Semuanya. Impian-impian kecil juga besar, suasana pagi di tempat kelahiran, serta obrolan kulit luar dengan para pedagang sayuran. Terima kasih banyak.
Memang belum bisa memberi apa yang ibu cita dan minta. Jangankan itu, untuk sekedar menuruti kemauan berhenti merokok saja kolotku tiada kira, bahkan hingga nampaknya ibu sudah lelah, capek, atau mungkin muak sampai-sampai ibu sudah mau tak mau, rela tak rela berlagak biasa saja. Meski yang kusadari jelas itu pura-pura semata. Terima kasih, tapi juga maaf nggeh, bu.
Terima kasih, masih mau menyisakan air mata sucimu untuk mengiring keberangkatan anak-anakmu ke tempat mental dan nasib mereka diadu. Dengan beragam lika-liku, yang tak jarang menikam keras, menusuk dalam, juga menampar telak hingga solusi terbaik yang bisa diambil hanyalah turu. Yang dengan lagak sok dewasanya mereka, seringkali coba menguatkan diri sendiri dan menyembunyikannya. Bukan masalah tak percaya atau enggan untuk bercerita, namun memang dengan sadar betul kami tahu, bahwa ibu di rumah juga punya beban besar di setiap langkahnya, jadi dengan cara bergaya kuat dan menerapkan prinsip hidup seorang punk, setidaknya adalah upaya kami untuk tidak menambah beban disamping masih belum bisa memberikan apa yang ibu impikan.
Meski yang tak malu aku sendiri akui, pada akhirnya bercerita kepada ibu adalah sebaik-baiknya solusi yang ada. Bukan sebuah pilihan, sudah jadi keharusan. Bercerita apa saja, bagaimana aku menjalani hari-hariku, mencoba selamat dari serangan rindu, berbagai upaya menyiasati sisa uang kiriman yang tinggal 50 ribu padahal masih jauh dari Minggu, serta bagaimana aku dengan apa adanya aku mencoba mengajak wanita yang aku yakini sebagai belahan jiwa untuk nekat kuajak berkeliling Jogja dengan dana seadanya dan jelas mengajak serta loesi sebagai kendara. Semuanya. Pada akhirnya.
Terima kasih juga atas sejumput doa dan cinta yang tak lupa sentiasa ibu beri di setiap masakan. Sayur asem, sambal terasi, pepes bandeng, serta plecing kangkung kesukaan.
Terima kasih atas segala macam apresiasi yang telah diberikan, terhadap apa saja yang anak-anakmu yakini dan lakukan.
Terima kasih, masih dengan sabar dan sadar memaklumi "pekok", nakal, liar, dan beragam kelakuan serta keputusan yang tak jarang menambah beban pikiran.
Terima kasih.
-
Mohon maaf juga pasti tak lupa untuk diucapkan, untuk semuanya yang seringkali menyisakan goresan, mengepulkan kekhawatiran, menumbuhkan ketakutan, dan menyakiti perasaan.
Mohon maaf masih belum bisa menjadi seperti apa yang ibu cita, masih banyak membantahnya, masih sering lupa tujuan semuanya bermula, tak jarang terlena masa remaja hingga tak sadar asalku darimana, bagaimana kerasnya usaha ibu untuk mengirim dana.
Mohon maaf masih egois karena idealis yang masih tergenggam erat, hingga sering kali berdebat. Masih tak mau mengerti bahwa ibu mau dimengerti sebab jarang sekali dimengerti.
Mohon maaf juga sebab sering tak memberi kabar, lupa bertanya kabar, dan jarang memberi perhatian dengan dalih kesibukan yang pada akhirnya entah apa gunanya selain foto dokumentasinya dikirim ibu juga. Untuk sombong kecil-kecilan agaknya, bahwa "ini loh anakmu", "baru selesai ini itu", yang pada akhirnya tiada setimpal juga jika dibanding tau pasti kondisi ibu.
Mohon maaf nggeh, bu.
-
Mungkin terkesan sangat simbolis, hanya meramaikan tanggal 22 di bulan terakhir setiap tahunnya. Memang benar agaknya.
Sebab sangat tak adil jika hanya menyematkan satu hari untuk mengapresiasi kasih dan cintanya yang tiada pernah ambil libur tanggal merah.
Lagipula, siapa coba yang dengan bodoh berpikiran bahwa hari ibu hanya ada di tanggal dua-dua?.
Apa tidak akan mati cepat mereka-mereka semua tanpa doa dari ibu di setiap harinya?.
Apa mungkin bisa sampai di titik yang katanya sukses di mata manusia jika tanpa restu dari ibu mereka?.
Dengan begitu, sudah jelas bahwa dua-dua hanya tanggal simbolis belaka. Setiap hari adalah hari ibu. Doanya, restunya, ridhonya, semangat darinya, senyum indahnya, suara lembutnya, gelak tawanya, semuanya, kita akan selalu perlukan semasa nyawa masih bersemayam dalam raga. Jadi, dosa besar jika setiap harinya kita tak berupaya sekuat tenaga, berusaha semaksimal yang kita bisa, juga balas mendoakan keselamatan, kesehatan, serta kebahagiaan ibu kita semuanya.
Satu yang pasti, semua ibu adalah alasan setiap anak untuk memulai dan berhenti. Karena dari beliau kita hidup, dihidupi, serta kelak menghidupi.
-
Sekali lagi, selamat hari ibu ya, bu.
Terima kasih sebanyak-banyaknya.
Mohon maaf sebesar-besarnya.
Meski memang, ukuran banyak dan besar di dunia tiada sanggup untuk mencakupnya.
Namun yakinku, Sang Maha jelas tahu.
Hong!.
Komentar
Posting Komentar