"Rukun Tetangga" // "Ramah Tamah"

Dua dari tujuh, ketika mentari (beranjak) pulang ke rahim ibu. Aku bertanya pada ibuku sendiri, "Makan apa kita malam ini, honey?". Namun bodoh teramat bodoh aku, entah lupa atau memang tak tau malu, dengan nada berlagak songong bertanya macam itu. Padahal yang kutahu, sedari lima atau enam entah mungkin tepat sejak tujuh hari lalu, ibu terbaring lesu, dengan batuk disela-sela membaca novel online andalannya sejak dulu.

Namun namanya juga ibu, yang sebagaimana mestinya beliau adalah penyelesai masalah paling ulung di dunia, pemberi solusi paling mantab sejagad raya, dan masih banyak lainnya. Beliau menawarkan untuk membeli saja, dibungkus atau mau makan disana juga tak apa, nasi andalan kaula muda area Tayu dan sekitarnya. "Sego Pecel" Pak Joko di Pasar Tayu yang sudah mahsyur pamornya.

-

Sedikit berbasa-basi, kemudian aku mengumpulkan niat untuk menyusuri. Menyusuri langit sore sendiri, melewati alun-alun yang jelas kemungkinan besar telah dipenuhi banyak sejoli, tapi tiada terlalu perduli. Perut lapar ini harus sesegera mungkin diisi nasi, takkan cukup kenyang jika hanya diberi gengsi, apalagi tidak ada tambahan sambal terasi. Berangkatlah aku, dengan loesi.

-

Sesampainya ditempat tujuan, ternyata Mas Joko dan kawanan sedang tidak mencari pundi keuntungan. Sialan memang, sudah habis bensin sepersekian liter, tambah rambut yang pasti lepek diterpa angin senja, ditambah nampaknya perut tak akan jadi dimanja dengan ciamik racikan "sego" pecelnya. Tapi yasudah, hidupkan memang tak sesuai dengan rencana, dibilang gagal pun toh gagal hanya nama yang kau berikan kepada rencana Tuhan ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan.

Lantas mlipirlah aku sedikit ke "ngulon" alun-alun, tampak buka warung yang juga jadi andalan para kaula dikala malam tiba, namun memang sudah buka sedari langit memerah di ufuk barat sana. Setelah menepikan si loesi dan sebelum memesan sepiring nasi, kusempatkan menggoda penjaga toko elektronik dengan embel-embel nama "family". "Lek, sego pecel setunggal" (Om, nasi pecel satu) Kataku. Yang nampaknya sedang senang dan sibuk menatap layar kaca kemudian seketika si penjual terperanjat bangun bersiap melayani sebagaimana penjual profesional pada umumnya. Namun umpatan kecil yang diucap melihat aku --si teman lama-- yang memesan nasi pecel di kios kipas, lampu, juga perangkat lain milik orang tuanya. Akupun hehe saja, sembari senyum kecil dan berlalu menuju kios semestinya.

Pondasi sudah kupesan, menunggu mbak-mbak pelayan (baru) "on the way" menyajikan. Sama, aku konsisten memesan pecel sebagai opsi untuk perut yang belum terisi. Namun nampaknya 1-0 untuk kekalahan si nasi, sebab si penjual sebelah yang sempat kugoda lebih dulu menghampiri.  Membalas hehe-ku dan kemudian duduk bersama di satu meja dan mulai meracik cerita, meramu kenangan lama. Namun, tak juga. Sebagaimana setelah tak bertemu dengan jangka yang cukup lama, obrolan tentang beberapa hari terakhirlah yang dipilih sebagai tema pertama. Selang yang tak terlalu lama, nasiku pun tiba, senang sudah pasti, tapi belum sebegitunya sampai habis tuntas pecel lengkap ditambah dua (saja) bakwan kegemaran dilanjut seruput sedikit teh hangat manis dan membakar surya andalan. Masih dengan lawan bicara yang sama di seberang meja sana, menemaniku selama memasukkan sesuap nasi yang ditata rapi dengan berbagai lauknya supaya nikmat sempurna dirasa ketika masuk ke dalam mulut, sebelum meluncur ke kerongkongan dan bersemayam dalam perut.

-

Sembari kebal-kebul dengan tembakauku, kita tetap menjaga api bicara supaya tetap menyala. Biar hanya datang yang menang dari nasi, perihal merokok dan berbincang tidak boleh ada kompetisi. Batangnya sudah mulai terkejar bara, pertanda harus segera dibuang dan musti segera berlanjut ke pembayaran. Yang selepas perut kenyang paru-paru senang, kami berdua sepakat lanjut sembahyang ---Menyembah ke Yang Maha, Maha segala-galanya--. Beranjaklah kami melewati Mbah Mul yang sedang menonton televisi, kemudian ku mengucap permisi lanjut mengambil air suci dan melaksanakan ruku' tiga kali. Yang kemudian setelah usai, kawanku ini mempersilahkanku duduk di kursi. Lanjut menawarkan teh atau kopi yang kuduga mengarah sebagai teman pendamping diskusi. Obrolan saja sebenarnya, dua pemuda pecundang soal asmara dengan beragam pola pikir dan lika-liku kehidupan rantaunya, juga kembali bernostalgia ke dulu kala tentang bagaimana gila, nekat, gokilnya kita semua. Jadi jika memilih diskusi sebagai diksi nampaknya terlalu berat yang takutnya nanti dikritisi oleh para pembaca ini, yang jujur entah kapan itu terealisasi. Hihi (biar pas pake akhiran -i).

-

Terpilih dan tersajilah kopi, teh tertinggal satu poin kali ini. Maaf teh, balas lain kali.

Aku tak membawa gawai, hanya tas kecil buah karya tangan mungil shofie --keponakanku-- yang mungkin dibantu Mbah Kumari yang aku isi dengan sebungkus surya dua-belas dan djarum tujuh-enam mangga, tak lupa beberapa pundi sebagai modal transaksi. Perbincangan (yang pada akhirnya panjang) pun dimulai. Bukan lupa atau bagaimana, tapi rasa-rasanya tak terlalu penting juga khalayak tau apa-apa saja yang kami pilih jadi tema dalam gala wicara, kurasa. Tak ada untungnya pula, tak membuat kalian jadi tambah wawasan, makin dikenal, terlihat sangar, dianggap pintar, serta tak menjadikan anda-anda semua bergelar raja skena. Kan memang beberapa tadi yang jadi ajang saat ini para muda-mudi meraup sebanyak-banyaknya validasi. Cuih.

Tapi yang pasti, teh mengejar ketertinggalannya. Sebab akhirnya tersaji sebagai pendamping ronde kedua. Selamat teh, hasil yang cukup memuaskan untuk menutup hari. Karena memang benar sekali, tanpa sadar sebentar lagi hari sudah berganti, Selasa akan beranjak ke Rabu, dan aku harus segera pulang untuk bertemu ibu. Sudah lupa waktu aku, meninggalkan ibu yang aku yakin sudah tidur sembari berpikir "Hanya ke Tayu kok lamanya seperti pergi ke Kota akhiran U". 

-

Terima kasih atas suguhannya.
Terima kasih atas segala ceritanya.
Terima kasih karena bermurah hati mencurahkan buah pikirnya.
Tentu, terima kasih atas waktunya.
Si yu, ya.
Ea.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

SELAMAT

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI