Postingan

JUDUL TIDAK TERLALU PENTING

Per hari ini, malam ini, aku tegaskan sekali lagi. Aku sungguh muak dan teramat benci, dengan keadaan, pada kenyataan, dan segala macam pertimbangan-pertimbangan yang kutubnya selalu perihal uang. Singkatnya, aku benci menjadi miskin. Tai! Dengan kata cukup atau berkecukupan.  Omong kosong.  

22

Sungguh, tidak ada lagi yang spesial di perayaan hari kelahiran. Tepat di hari Minggu, memang, tapi tetap saja rasa ingin bersantai dan bermalas-malasan kalah telak dengan tanggung jawab dan kewajiban. Alarm sudah berbunyi untuk keempat kalinya, mulai dari pukul enam lebih empat puluh tujuh hingga kini di tujuh lebih dua puluh satu, pengingat terakhir untuk segera beranjak dari kenyamanan fana sebuah kasur telanjang yang tak sepenuhnya menopang tubuh yang terlampau panjang. Segera, aku harus keluar dan merangkul handuk, guna mengusir kantuk. Tak ada waktu untuk duduk. Pagi ini tak jauh berbeda dari pagi-pagi lainnya selama mungkin hampir sebulan bertaruh di Surakarta, iya, bertaruh mungkin kata yang tepat. Semoga. Subuh ditunaikan jauh dari semestinya, karena bagiku air dan muka bukan pasangan serasi kala sadar singkat menghampiri. Tentu aku sadari, Yang Maha jelas tak suka sebab lebih memilih nikmat duniawi, tidur kembali. Tapi sudahlah, biar saja itu jadi urusanku, kecewa kalian rasa...

HAMPIR MATI DITERKAM SEPI

Aku tak tahu harus memulainya dari mana, aku lelah dan hampir menyerah. Menyerah kepada kenyataan bahwa ternyata aku sepenuhnya kesepian. Hal-hal yang selama ini kugaungkan ternyata masih belum lawan sepadan bagi kesendirian. Akhirnya, kalimat "idealisme tak harus selalu diberi makan" lebih sering mampir seliweran, sebagai bahan bakar untuk penyesalan. Ditengah kehidupan yang (sangat-sangat) monoton di Solo, di setiap isapan dalam sebatang-dua batang tembakau andalan, dan di hampir semua malam dalam kotak pelebur penat yang tak sepenuhnya dapat menuntaskan amanat.  Tidak ada lagi banyak "namun" atau "tetapi", aku benar-benar mengakui bahwa sepenuhnya telah diperkosa sepi, hancur dan hilang sudah harga diri, terkunci dalam siklus kehidupan paling dibenci, namun tak bisa berbuat apa-apa sebab cukup takut jika terlalu banyak aksi-aksi akan berimbas pada kehidupan university (nanti). Mungkin juga tidak akan lagi banyak umpatan, sebab ini semua adalah buah dar...

21

KALA ITU; PERIHAL WAKTU, MASALAH RINDU

Sudah berlalu tiga ratus enam puluh lima hari. Tepat saat pertama kali memberanikan diri untuk mengajak puan mengelilingi Jogja dari sehabis sholat tarawih hingga menjelang pagi. Dari Kamis yang beranjak ke Jum'at, Kemudian dari Jum'at menuju Sabtu, menyisakan Minggu untuk menjalani hari masing-masing, namun tetap menjaga bara wicara melalui gawai supaya tidak menjadi asing. Indah, sungguh indah. Meski sudah musnah. Lantas sekarang harus apakah? Memulai lagi menyalakan api? Atau tetap hanyut di garis-Nya ini? Pertanyaan yang sama dari banyak orang di sekitar saya. Mengapa dan kenapa? Memangnya apa salahnya? Tiada yang salah. Tidak tahu juga. Entah saya yang sudah hilang rasa atau memang sudah tak lagi bersemayam nyali yang membara bak dahulu kala. Tapi soal rasa, jelas dan pasti masih ada, bagaimana bisa saya bilang hilang rasa, nyatanya tercipta juga tulisan-tulisan pelipur rasa yang sedemikian banyaknya. Kalau soal nyali, tentu bisa disangkal semudah memutuskan untuk absen di...

"Rukun Tetangga" // "Ramah Tamah"

Dua dari tujuh, ketika mentari (beranjak) pulang ke rahim ibu. Aku bertanya pada ibuku sendiri, "Makan apa kita malam ini, honey?". Namun bodoh teramat bodoh aku, entah lupa atau memang tak tau malu, dengan nada berlagak songong bertanya macam itu. Padahal yang kutahu, sedari lima atau enam entah mungkin tepat sejak tujuh hari lalu, ibu terbaring lesu, dengan batuk disela-sela membaca novel online andalannya sejak dulu. Namun namanya juga ibu, yang sebagaimana mestinya beliau adalah penyelesai masalah paling ulung di dunia, pemberi solusi paling mantab sejagad raya, dan masih banyak lainnya. Beliau menawarkan untuk membeli saja, dibungkus atau mau makan disana juga tak apa, nasi andalan kaula muda area Tayu dan sekitarnya. "Sego Pecel" Pak Joko di Pasar Tayu yang sudah mahsyur pamornya. - Sedikit berbasa-basi, kemudian aku mengumpulkan niat untuk menyusuri. Menyusuri langit sore sendiri, melewati alun-alun yang jelas kemungkinan besar telah dipenuhi banyak sejoli, t...

SEDIKIT SEKALI, DARI ANAKMU INI.

Selamat hari ibu, nggeh bu. Rahayu. Sehat selalu. Barokah always kehidupanmu. Serta semoga senantiasa diberikan kemudahan, dada yang lapang, sabar ingkang jembar, juga kuat untuk senantiasa bersabar dengan beragam ujian yang diberikan. Punya anak bandel misale. Hehe. Terima kasih atas semua waktu yang sudah dicurahkan, disempatkan, bahkan direlakan. Merawat kami melebihi merawat diri ibu sendiri. Memupuk kami dengan cinta juga menyirami kami dengan doa. Menyisihkan segalanya, yang agaknya bisa menggapai sedikit yang ibu impikan sejak lama, membuat apa saja untuk senyum ceria anak-anaknya, meski kadang ibu sendiri tak terlalu suka. Dan masih banyak lagi lainnya yang jelas tak akan cukup satu waktu kesempatan hidup di dunia ini untuk merinci semuanya. Hanya memberi tanpa meminta. Jelas sebagai manusia biasa berlumur dosa, agak berat untuk membalas itu semua. Mungkin benar saja, bahwa ibu dan ibu-ibu lainnya adalah utusan surga, yang memang kesanalah pulang sebenarnya dengan beragam imbal...