Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2023

MASIH DICARI, YANG TEPAT DAN MEWAKILI.

mungkin tiga dikali dua setengah, bermacam sisi sarana rebah. beberapa botol kaca mudah pecah, sebotol kecil madu hasil kerja lebah. adalah definisi singkat dari sebuah kotak pelebur penat. dimana segala lelah dibasuh, berbagai takut ditaruh. dipastikan supaya tak tumbuh. menampilkan sembilan tiga sebagai kelana, beranjak dari senin menuju selasa. bergegas ke arah rabu, sebelum servis ringan di riuh sabtu. penuh karat, tampak tak terawat. padahal itu adalah sengaja, meski pemirsa berbeda menangkapnya. satu, delapan, tiga. terakhir kali tertera. namun banyak ucap bahwa, itu tadi tak lagi sama. namun harapku, cukup di satu delapan tujuh. sangat kucukupkan. semoganya tiada lagi pertambahan. tiada apa-apa lagi. tak mau menyiasati. biarlah seperti ini. jika jadi, biarlah jadi. langsung ke inti saja. masih betul bertanya-tanya, mencari dan menerka, dimana orang dapat untungnya. untuk memberi dan merawat, insan rendah ibarat tinggi di syahwat. jelas hanya rugilah yang didapat. betul saja dan ...

BANYAK JIKA, SEDIKIT MAKNA.

kalau saja hamba orang kaya, hamba mungkin takkan merasakan cinta. jika saja hamba orang berada, bukanlah engkau yang ada di radar mata. untungnya hamba orang tak punya. yang untuk mencinta saja banyak sekali pertimbangannya. syukur hamba kurang perihal dana. hingga bait-bait penghibur semacam ini cukup banyak yang tercipta. menyedihkan? atau menjijikan? apa yang akan tuan dan puan sematkan? guna menghakimi berbagai macam khalayan yang ditemani terang rembulan. apa tidak terlalu banyak waktu yang kan terbuang? hamba hanya bertanya, sedikit mencela, memang. sebab, apakah tuan dan puan merasa dirugikan? apakah hamba sangat menggangu sebagai sebuah kehadiran? ah, dulu semua itu jadi bahan renungan panjang. dulu sekali tapi, sekarang hamba sungguh benar tak terlalu peduli. mau khalayak banyak omong, menggonggong, gerak serong, atau pergi ke Serpong. hamba tetaplah hamba dengan banyak omong kosong, dengkul kopong, janda bolong, dan sebait kata hong!. yang harus hamba akui, hamba memang send...

SEHARUSNYA, KURASA.

engkau angkuh, seharusnya. sebab kurasa mampu dan bisa. dengan segala yang engkau punya. tapi apa, tidak ternyata. bahkan aku, sang jelata. tetap bisa bercengkrama. sedikit menerka, dan jatuh hati pada akhirnya. oh, sungguh jika engkau rembulan, aku hanya semut kecil di balik ilalang. jika engkau ibarat mentari, akulah pelacur yang sombong yang tak pernah menyapa pagi. jika engkau adalah apa, aku mungkin sebuah niscaya. jika engkau ibarat mengapa, aku hanya sebatas siapa. dari dua dan beberapa lainnya aku tiada makna, tiada guna. engkau tetap engkau dengan segala indahnya, dan aku, tetap lelap dalam khayal di beberapa sisanya. bajingan ataupun pecundang, yang akhirnya disematkan  tak lagi menjadi diam renungan.  selagi engkau masih di bumi, tiada lagi alasanku tuk bersedih hati. sudah sangat indah, dan tak perlu diubah masih sebumi, selangit, dan seagama. meski sejujurnya, sangat menyedihkan di sisi lainnya. tapi tak apa. sungguh tak apa. engkau, tetaplah jalani harimu. dengan...

YANG KESATU MESKI BUKAN SEBELUM DUA YANG KALA ITU

Selayang pandang, Sudah sangat jarang aku menyapa jam 9 pagi. Begitu juga dengan jam 10 dan 11, saat terik-teriknya sinar mentari. Kadang mengucap salam sebentar kala jarum pendek di puncak perputaran, selebihnya kembali sombong kepada 1 siang sampai 3 menuju petang, hingga ibu pulang atau perut lapar keroncongan yang memaksa untuk bangun dan beranjak dari seiris kenyamanan. - Hallo dan hai. Kembali lagi di tahap ini. Kesempatan untuk memperkenalkan diri, bukan hanya untuk kalian semua yang entah kapan akan membaca, tetapi juga kepada aku sendiri, yang semakin lama semakin jauh, semakin jauh semakin tersesat, dalam menempuh jalan dari-Nya ini. Ini adalah tulisan tentang aku yang entah keberapa. Karena memang pada setiap gejolak yang dihadapkan, aku mulai tak malu untuk mencurahkan. Semacam pelarian, seperti pelampiasan. Mengutarakan apa saja yang aku rasakan kini, di momen aku masih kerap bercengkrama dengan malam, sembari menunggu mentari datang menggantikan rembulan. Untuk saat ini, ...

IZIN BERTANYA

Puan, dimana kau memperdalam ilmu? Jarang terpampang. Namun sekalinya iya, kau berhasil merubuhkan hampir seluruh benteng pertahanan. Begitu hebat, entah pesonamu, personalmu, atau secuil kisah indah dulu itu. Bagiku.  Jelas bagiku, aku tak mampu mengatakan bahwa kau merasakan hal yang sama denganku kala itu, tak mau serta tak berani menerka apa saja yang masih kau sembunyikan sebagai jalan untuk menghargai segala hal sederhana terlampau jauh dari istimewa yang aku lakukan.  Rapuh demi rapuh telas tuntas menjadi runtuh. Berpuluh-puluh hari kubangun dalam lelap dan diam bisu agar tak kembali tersenyum haru kala melihat wajahmu. Sialnya, saat tiba ketakutan itu, dengan mudah aku kembali ke masa dimana bahagia yang kurasa kala itu adalah salah satu rupa bahagia baru selama carut marut kehidupanku.  Kembali terlintas setiap kata perkata yang kau ucap dan kudengar dengan pasti, yang kemudian kucipta sebagai bait demi bait penyemangat pagi, penyelamat hari. Yang sedang kujalani...

CUKUP

Sepekan di lingkungan yang membesarkan, cukup tenang sedikit menyedihkan. Memutuskan menepi dari kehidupan perkotaan yang juga tak terlalu metropolitan, karena masih banyak senyum agak kerepotan dari ibu-ibu penjual jajanan pasar, yang sejujurnya hanya beberapa kali kujumpa, selebihnya masih nyaman di segala puja isi kepala atau dingin air menuju dingin udara dalam bilik akademika. Banyak yang memang sudah diterka dan pada akhirnya menjadi hal yang benar-benar ada, segala bentuk keluh, bermacam jenis lelah tubuh. Yang semuanya terjadi guna menghidupi, kadang memberi, serta yang pasti untuk sekedar bertahan agar tetap bisa berjalan di skenarionya Gusti. Produktivitas jelas tak nampak meski sekedar sekilas, mengeluhkan keadaan lumayan mengepul dan memanas, bercumbu mesra dengan kesedihan mulai agak sedikit terpangkas, sebab tak bisa dipungkiri ketika berada disini ada berbagai jenis kesedihan lain yang wajib dihadapi lagi. Bukan berarti renungan malam berteman tembakau lintingan sendiri ...

59 DARI MULANYA

Yang kesatu dari tujuh, mulai menentukan arah tuju, bersiap kembali bersahabat dengan debu. Dengan semangat yang tak terlalu bulat, dengan sisa nafas dana yang dipenuhi siasat, memutuskan untuk keluar dari rutinitas belakangan yang sudah mencapai penat. Bercumbu mesra dengan sang peredam lelah yang sudah meliuk dan tipis ditengah bak sebuah sampan, kurang dari tiga yang menemani tidur dalam pelukan, juga lebih dari dua sebagai penopang kepala yang sudah cukup jauh dari kata nyaman. Serta tak lupa segala lainnya yang ada dalam sebuah bilik sederhana tempat jiwa dan raga yang rapuh meredam semua di masa penuh sandiwara. Berangkat di jam biasanya, bukan pelan namun memang seperti itu paksa lajunya. Menuju ke sebuah tempat yang memang sudah akrab sebelumnya, menyapa yang ada disana dengan jejak tapak perjuangan di suatu kala, berharap mendapat atau membuang apa saja yang memang sudah sepatutnya. Tiba di saat yang semestinya, meski agak hilang arah seperti di kehidupan biasanya. Sudah ada y...