Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2023

BERHASIL GAGAL

Aku sudah bersiap menyapa nirwana sedari tadi yang bisa dikata cukup lama. Tapi untuk menemani dan mengiringinya, aku sempatkan menyelam ke kehidupan orang-orang, melihat apa saja yang sedang mereka lakukan, dengan siapa waktu mereka dihabiskan, tawa atau tangiskah yang menjadi akhir kesimpulan, serta hal-hal lain yang pada akhirnya menyisakan ratapan betapa menyedihkannya aku. Dibilang kurang bersyukur, jelas iya. Dikata tak tau diuntung, mungkin benar juga. Aku, sebagai manusia adalah insan yang selalu berupaya diterima dan seakan memaksa sekitar menerimaku dengan seada-adanya. Egois! Aku, sebagai hamba ialah yang gagal dalam menikmati indah rasa ibadahnya. Aku, adalah seorang yang gagal, dalam segala hal. Mungkin hanya satu yang aku berhasil mencapainya dengan mutlak. Yaitu berhasil menjadi gagal sepenuhnya. Memang sudah sewajarnya memikirkan banyak hal dan berperang di kepala atau apakah aku yang terlalu keras mendidik jiwa dan raga yang kadang sepatutnya diberi ruang untuk sekedar...

PALUNG MARIANA

Sejatinya, pada dasarnya, sakjane, dan ibarat kata, setiap insan ialah seorang seniman. Baik sebagai perupa, penyusun kata yang kadang diiringi suatu irama, ataupun sejenis lainnya. Entah untuk dinikmati sendiri, dikomersilkan guna menghidupi, atau sekedar anak dari senyap meratap untuk melepas penat tergumpal di otak kiri. Perlu tak perlu, secara sadar ataupun tidak, seringkali kali kita menjadi itu. Begitupun juga aku. Seorang pemuda dengan segala keterbatasannya, serta semangat yang seadanya, namun harap dan khayal yang luar biasa banyaknya. Untuk itu, Sempat menjadi bagian dari sedikit alur kehidupanmu (bagiku) adalah sebuah karunia yang membawaku kedalam sebuah kolam air tujuh warna dengan pohon-pohon rindang berbuah nan cantik bunganya. Sajak-sajak indah yang selalu aku cipta dan kupersembahkan dengan penuh sukacita kepada sang pujaan jiwa, meski kadang merasa bahwa tak pantas jika seorang putri mahkota hanya mendapat secarik kertas yang diisi bait rasa oleh sang fakir asmara. Me...

TAU (?)

Aku belum tau siapa aku, selain sebatas identitas sebagai warna negara dan anggota dari sebuah keluarga. Sekilas yang aku sadari dan tak malu kusampaikan, aku terkadang suka dengan keramaian, sebab disana aku merasa bebas dan tidak diperhatikan. Aku benci menangis, mungkin bukan benci tapi lebih kepada susah, atau mungkin juga malu dengan dalih karena merasa itu tak menyelesaikan apa-apa. Aku kurang suka dengan kopi pahit, tapi untuk yang manis aku pun tidak terlalu suka, mungkin karena seiring dengan bertambahnya usia. Minuman paling mantap bagiku adalah es jeruk warung santai yang kadang telat pengantarannya dan juga es jeruk rumah makan nasi padang sabana murah 3. Spesifik. Karena memang hanya disitu aku sering beli. Manis dan asam, kombinasi yang cocok untuk mengiring kepulan asap surya yang kadang aku beli bersama 11 teman lainnya dalam wadah yang sama, namun tak jarang pula aku beli ia sendiri tanpa rumah yang seperti biasanya. Aku cukup fanatik dengan berpikir kritis, tapi entah...

SECUIL JOGJA SEBAGAI YANG PERTAMA

Malam tadi adalah salah satu malam yang panjang diantara malam-malam panjang lainnya di kehidupan usangku. Banyak momen tercipta, baik sebagai pelipur lara, nostalgia rasa, jua aku sekilas menyebutnya sebuah wisata. Meski pada akhirnya, malam sepi tetap dan selalu sentiasa menjadi teman sejati. Bukan sebuah kebetulan atau hal yang tak wajar, sekedar menginfokan bahwa setadi malam (bisa disebut sudah pagi juga) aku tidur pukul 5 seusai adzan suci yang udaranya masih bersih sebab katanya belum tercampur dengan nafas orang-orang munafik bangun dan beraktivitas selesai berkumandang. Apresiasi terbesar untuk sebuah tempat dengan rindang dua pohon besarnya. Sepi yang agaknya tak pernah menyapa, dengan para sejoli penuh cinta asmara yang selalu datang untuk memupuk serta merawat rasa.  Iya, Alun-alun kidul Yogyakarta. Banyak momen tercipta disana, dan tak jarang semuanya bisa disebut sebagai yang pertama. Bertemu, berbincang, tertawa dengan teman yang sekarang sudah kuanggap saudara, ber...

TERNYATA AKU BUKAN SIAPA-SIAPA

Dengan percaya diri, aku mengira bahwa segala yang aku pikir di kepala akan menjadi nyata tak sekedar fana, namun nyatanya tak seperti itu dunia bekerja. Dipatahkan, dijatuhkan, dihancurkan, dipupus harapkan oleh isi kepala sendiri kurasa adalah hal paling menyakitkan dan sepatutnya untuk dibenci. Ya, dibenci. Bencilah pada dirimu sendiri, bukan keadaan yang terjadi. Bayangkan hal-hal terburuk agar siap dan tak patah ketika itu terjadi. Omongan yang selalu aku gaungkan kepada semua kawan namun kini menjadi peluru yang kembali ke diri sendiri, menjadi paku yang aku palu dengan mantap ke urat nadi, munafik. Memang, ada orang berkata pada sejatinya kita semua munafik. Selalu pura-pura tidak apa apa, dan melakukan kepura-puraan lainnya semasa hidup di dunia fana. Dan yang kini aku sadari, menaruh kebahagiaanmu di orang lain adalah kesalahan terbesar. Inilah yang sedang kualami, semoga kuat dan bisa untuk menghadapi, melalui, serta menghabisi. Sebab, "pipel kam en go" Dan ketika t...

DISIRAM

Tak sengaja atau memang sudah garisnya, aku pernah membaca sebuah kutipan indah dari orang diluar sana. Ia berkata "banyak orang ingin dirinya dicintai dengan sepenuh hati, lalu? jika semuanya berpikiran sama, lantas siapa yang akan menjadi pelakunya?" Kurang lebih seperti itu yang aku cerna. Dan berdasar hal tersebut, agaknya aku memutuskan secara sepihak pada diriku sendiri untuk menjadi pelaku utama dalam soal mencinta. Aku akan konsisten dengan segenap harapan dan khayalan di indahnya sore menunggu datangnya rembulan, berharap ia yang kuharap dan sentiasa kukhayal bisa bahagia dan tetap menjaga indah senyumnya. Jauh disana, tak terjamah tangan kotor nan jahat dengan segala licik isi kepala. Kuharap dan semoga. Sebab, secara sadar aku masih tak sadar apa alasan insan lain untuk bisa mencintaiku? Aku sendiri masih meragukan dengan berbagai alasan yang pernah dilontarkan, kurasa iya, ada benarnya. Namun tak lupa, akal sehat berkata bahwa itu bukan dan biasa saja. Lantas baga...

UPAYA SEDERHANA DAN SEADA-ADANYA

Bagi sebagian orang, menyimpan memori ingatan perjalanan yang entah liburan ataupun naik turun kehidupan melalui secarik kertas ditumpang tindihi coretan, ada juga yang melalui segala macam bentuk estetika jepretan, tak salah, bebas, dan sesuka sebahagia mereka. Tak menunggu kalian bertanya aku bagaimana, dengan percaya diri aku berkata bahwa lirik larik diiringi alunan musik menjadi salah satu kenyamanan sendiri insan nestapa pura-pura bahagia ini. Ya, aku nyaman dan menikmati setiap lirik yang kudengar dan kuyakini sama dengan apa yang aku rasa ataupun sedang kujalani. Di masa perantauan yang sangat alay dan jiji jika dikatakan penuh ratapan dan meneteskan darah perjuangan ini, aku banyak mengenal dan mulai menelusuk lebih dalam di setiap lirik-lirik lagu yang kudengarkan. Terlepas bicara soal selera, semua alirannya aku menikmati dengan caraku sendiri. Persetan polisi skena! Ketika dalam masa (seolah-olah) terpuruk aku tau apa yang akan kudengarkan, begitupun ketika aku bahagia dan ...

LIAR DAN KURANG AJAR

Besar dan tebal. Bukan sekedar bualan. Liar dan kurang ajar, pantas disematkan pada sang pemuda biasa dengan kehidupan yang sangat biasa-biasa saja mengharap khayalan jadi kenyataan dan selalu mengkhayal untuk hal-hal yang dirasa jauh bahkan tak mungkin untuk dijajak, disentuh, hingga dicapai. Memang benar, orang dulu sering berkata bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia. Akan selalu ada kemungkinan, baik berujung bahagia maupun duka, lara dan nestapa. Namun, bagaimana dengan kemungkinan yang ketika dikhayalkan saja sudah membuat diri malu manja dan ragu untuk melanjut indah lamunannya? Ya, bait-bait kata orang pintar sebelum jaman kita bisa saja jadi bahan bakar menuju kobaran api semangat pergerakan, namun tak bisa dipungkiri selalu ada sisi dimana akal sehat bahkan hati nurani sulit untuk menerima. Omong kosong belaka. sialan! Itu karena tuan tak rasa apa yang saya rasa, maka sebab itu segala kata indah tuan lontarkan dengan entengnya. Dan, Pada akhirnya, koreksi diri, evaluasi...

SETARA TAK BERDAYA

Iya ya... Ternyata semakin dewasa, tanpa kita sadari kita akan semakin persetan dengan segala problematika yang ada. Sebab, mau bagaimanapun kita mencoba mencari segala cara untuk menyelesaikannya, tak bisa kita pungkiri pada akhirnya di depan nanti akan (tetap, selalu, pasti) ada yang datang lagi bahkan bertubi-tubi. Namun, egois juga rasanya jika hanya mengeluh dan meratapi tanpa setidaknya (pura-pura) mencari solusi (-nya). Hehehe... Tapi, Dipikir-pikir tak apa juga jika ingin menangis, mengeluh, dan merasa menjadi manusia paling sengsara di dunia fana.  Teriaklah! Teriak saja yang keras dan lantang. Asal jangan berhenti dan menelan ludah sendiri. Karena pada dasarnya yang perlu kita lakukan adalah bertahan. ya! ber-ta-han.

KATANYA

"Beberapa anak beruntung lahir dari keluarga yang cukup materi, namun beberapa yang lain lebih beruntung karena lahir di keluarga seadanya, biasa saja, sehingga tulang dan hati lebih kuat untuk menghadapi kerasnya kehidupan ini." Tapi yang pasti, dewasa lebih cepat karena paksaan keadaan akan selalu mempunyai sisi yang melelahkan. Dimana anak yang lain masih dalam dekap pelukan, sejuta kehangatan, dan tak jarang masa depan yang sudah disiapkan. Sementara yang lain bagaikan anak kucing yang dilepas liar ke kandang macan, mau tak mau, siap tak siap harus selalu waspada dengan sekelilingnya dengan tekad dan semangat bahwa sukses dan berjaya bukan hanya milik mereka yang sudah punya segala-galanya. Terkadang terasa asu, tapi inilah yang harus kita sadari juga kita hadapi. Lahir dimana dengan kondisi seperti apa, kita tak punya kuasa untuk memilihnya. Namun mati dan dikenal sebagai siapalah yang akan selalu bisa kita usahakan mau bagaimana (nantinya).

BERMULA-BERMUARA

Selalu, selepas mengisi nutrisi, menghisap surya pertama di hari ini yang tak jarang ditemani secangkir teh atau kopi, pasti akan ada saja hal yang terbesit dan ingin dituangkan menjadi beberapa bait-bait omong kosong seolah untuk memotivasi diri sendiri agar tetap terus bertahan dengan segala lika liku sebagai laki-laki yang masih belum laku laku. Memang masih sendiri, tetapi selalu menjadi orang ketiga antara berisik isi kepala dengan malam yang sepi, kadang juga bercumbu mesra dengan cemas gelisah, menepis dan menerka keadaan ini di mana masih banyak yang harus dilewati dan dilalui untuk menelusuk lebih dalam mencari arti. Namun pada akhirnya, seringkali menyadari bahwa sejatinya hidup adalah sebuah misteri. Yang bagaimanapun juga, ketika sudah mengatur ekspektasi dan siap dengan kemungkinan terburuk perihal jatuh dan patah hati, nyatanya harapan akan selalu ada dan tak akan mati. Lalu untuk apa? Untuk apa kita berharap dan menyesal akan apa yang telah terjadi atau mungkin terhadap ...

PEJANTAN TANGGUNG

Tak punya uang, keluarga yang (agak) berantakan, menjalani hari sendiri tanpa pasangan, cemas dan khawatir akan masa depan. Semua itu adalah hal yang sulit diterima dengan lapang namun seiring berjalannya waktu juga yang mendewasakan. Lalu mau bagaimana? Pilihanku sebagai seorang pria dewasa yang (pura-pura) tangguh dan merasa bisa sendiri menghadapinya tentu adalah acuh tak acuh saja. Bagiku menangis bukan solusi sama sekali. Sebab kurasa, air mataku, air mata lelaki beranjak kepala dua ialah suatu hal yang haram dan mahal tebusannya. Hanya akan dan untuk hal-hal yang memang bukan lagi di kendali tanganku namun berimbas besar pada kehidupanku. Mencoba senantiasa menikmati apa yang dipunya dan selalu berdoa tentang segala hal yang kuharap ada. Sangat tak pantas dan memalukan jika harus tumbang ditengah jalan karena rintik gerimis air hujan sementara badai petir pernah ku terjang (sendirian). Akan ada yang jauh lebih besar di depan.  Pasti.  Jadi, santai saja, rileks, selalu ta...

HALLO

Manusia beranjak kepala dua, seperlima abad riwa riwi tak tau mau kemana dan akan jadi apa(?). Dengan sampan reot dari kayu bekas kandang ayam bapakku, aku dilepas untuk menerjang, menggilas kehidupan yang kadang keras berujung cemas. Mau jadi apa? Apa yang kumau? Mau dikenal sebagai siapa? Aku tak tau. Masih senantiasa coba menapak untuk berjalan ke ujung yang entah kapan dan dimana guna mencari jawaban dari semua itu. Terkadang terjebak dilema, "Kenapa harus mencemaskan masa depan yang masih semu abu-abu hingga lupa untuk mensyukuri dan menikmati secangkir kopi, sebatang surya diapit telunjuk dan jari tengah di tangan kiri di cerah pagi ini". Tapi mau sampai kapan? Apa karena aku pribadi yang lemah dan takut untuk berjalan sendiri ke depan? Sehingga bersembunyi dibalik kata yang kususun sendiri kala sore di depan pintu kos bujang tempat segala tangis, tawa, keluh kesah asmara kawanku tertuang. Hari baru pagi, malam masih panjang (?). Benarkah? Yakinkah? Aku, kamu, kita semu...